Jumat, 29 Maret 2019

KOMPONEN-KOMPONEN KURIKULUM DAN PENGEMBANGANNYA

A. Tujuan
Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah 1975/1976 dikenal kategori tujuan sebagai berikut. Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan jangka panjang, tujuan ideal pendidikan bangsa indonesia. Tujuan institusional, merupakan sasaran pendidikan suatu lembaga pendidikan. Tujuan kurikuler, adalah tujuan yang ingin dicapai oleh suatu program studi. Tujuan instruksional yang merupakan target yang harus dicapai oleh suatu mata pelajaran . Yang terakhir ini, masih dirinci lagi menjadi tujuan instruksional umum dan khusus atau disebut juga objektif.
Tujuan pendidikan nasional yang berjangka panjang merupakan suatu tujuan pendidikan umum, sedangkan tujuan pendidikan instruksional yang berjangka pendek merupakan tujuan yang bersifat khusus. Tujuan-tujuan khusus dijabarkan dari sasaran-sasaran pendidikan yang bersifat umum yang biasanya abstrak dan luas. Menjadi sasaran-sasaran khusus yang lebih konkrer, sempit dan terbatas.

B. Bahan Ajar
Ada beberapa cara untuk menyusun sekuens bahan ajar, yaitu :
1. Sekuens kronologis
Untuk menyusun bahan ajar yang mengandung urutan waktu, dapat digunakan sekuens kronologis. Peristiwa-peristiwa sejarah, perkembangan historis suatu institusi, penuemuan-penemuan ilmiah dan sebagainya dapat disusun berdasarkan sekuens kronologis.
2. Sekuens kausal
Masih berhubungan erat dengan sekuens kronologis adalah sekuens kausal. Siswa dihadapkan ada peristiwa-peristiwa atau situasi yang menjadi sebab atau pendahulu dari sesuatu atau situasi lain.
3. Sekuens struktural
Bagian-bagian bahan ajar suatu bidang studi telah mempunyai struktur tertentu. Penyusunan sekuens bahan ajar bidang studi tersebut perlu disesuaikan dengan strukturnya.
4. Sekuens logis dan psikologis
Melihat perbedaan antara sekuens logis dengan psikologis. Menurut sekuens logis bahan ajar dimulai dari bagian menuju pada keseluruhan, dari yang sederhana kepada yang kompleks. Tetapi menurut sekuens psikologis sebaliknya dari keseluruhan kepada bagian dari yang kompleks kepada yang sederhana.
5. Sekuens spiral
Dikembangkan oleh Brunner (1960). Bahan ajar dipusatkan pada topik atau pokok bahan tertentu. Dari topik atau pokok tersebut bahan diperluas dan diperdalam.

C. Strategi Mengajar
Ada beberapa strategi yang dapat digunakan dalam mengajar :
1. Reception/exposition learning - Discovery Learning
Sebenarnya mempunyai makna yang sama, hanya berbeda dalam pelakunya. Reception learning dilihat dari sisi siswa sedangkan reception learning keseluruhan bahan ajar disampaikan kepada siswa dalam bentuk akhir atau bentuk jadi, baik secara lisan maupun secara tertulis.
2. Rote learning - meaningful learning
Dalam rote learning bahan ajar disampaikan kepada siswa tanpa memperhatikan arti atau makna nya bagi siswa. Siswa menguasai bahan ajar dengan menghafalkannya. Dalam meaningful learning penyampaian bahan mengutamakan maknanya bagi siswa.
3. Gruop learning - individual learning
Pelaksanaan discovery learning menuntut aktivitas belajar yang bersifat individual atau kelompok-kelompok kecil. Discovery learning dalam bentuk kelas pelaksanaannya agak sukar dan mempunyai beberapa masalah. Karena kemampuan dan kecepatan belajar siswa tidak sama.

D. Media mengajar
Merupakan segala macam bentuk perangsang dan alat yang disediakan guru untuk mendorong siswa belajar .
Rowntree (1974: 104-113) mengelompokkan media mengajar menjadi lima macam dan disebut modes. Yaitu interaksi insani, realita, pictorial, simbol tertulis, dan rekaman suara.

Sumber : Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata.2011.Bandung:PT Remaja Rosdakarya.

Senin, 25 Maret 2019

Hakikat kebenaran melalui berbagai teori-teori dan nilai-nilai kebenaran

A. Konsep Pengetahuan
1. Pengertian Pengetahuan
Menurut KBBI, pengetahuan berarti segala sesuatu yang diketahui, kepandaian atau segala sesuatu yang diketahii berkenaan dengan hal (mata pelajaran). Adapun pengetahuan menurut beberapa ahli yaitu :
a. Menurut Pudjawidjana (1983), pengetahuan adalah reaksi dari manusia atas rangsangannya oleh alam sekitar melalui persentuhan melalui objek dengan indera dan pengetahuan merupakan hasil yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan sebuah objek tertentu.
b. Menurut Ngatimin (1990), pengetahuan adalah sebagai ingatan atas bahan-bahan yang telah dipelajari dan mungkin ini menyangkut tentang mengikat kembali sekumpulan bahan yang luas dari hal-hal yang terperinci oleh teori, tetapi apa yang diberikan menggunakan ingatan akan keterangan yang sesuai.
c. Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu.
Dari beberapa pengertian pengetahuan diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui yang diperoleh dari persentuhan panca indera terhadap objek tertentu. Pengetahuan pada dasarnya merupakan hasil dari proses melihat, mendengar, merasakan, dan berfikir yang menjadi dasar manusia dan bersikap dan bertindak.

B. Konse Nilai
1. Menurut (Antony Gliddens, 1995)
Nilai adalah gagasan-gagasan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok tentang apa yang dikehendaki, apa yang layak dan apa yang baik atau buruk.
2. Menurut (Horton & Hunt, 1987)
Nilai merupakan gagasan-gagasan tentang apakah suatu tindakan itu penting atau tidak penting.
3. Menurut (Richard T. Schaefer dan Robert P. Lmm, 1998)
Nilai merupakan gagasan kolektif (bersama-sama) tentang apa yang dianggap baik, penting, di inginkan dan dianggap layak.
4. Pengertian nilai menurut notonagoro
Nilai pokok, yaitu nilai material, vital dan kerohanian.
a. Nilai material adalah segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia.
b. Nilai vital adalah segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas.
c. Nilai kerohanian adalah segala sesuatu yang berguna bagi manusia. Yaitu :
-nilai kebenaran
-nilai keindahan
-nilai moral
-nilai religius

C. Teori Pengetahuan dan Nilai
1. Teori Pengetahuan (Epistimologi)
Epistimologi atau teori pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat ilmu pengetahuan. Pengandai-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pertanyaan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia.
Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantara nya :
-metode induktif
-metode deduktif
-metode positivisme
-metode kontempletis
-metode dialektis
2. Teori Nilai (Aksiologi)
Menurut bahasa Yunani, aksiologi berasal dari kata axios artinya nilai dan logos artinya teori atau ilmu , jadi aksiologi adalah teori tentang nilai.

Sumber : Suptono.dkk, sosiologi kelas X, (Jakarta:Phibeta,2006), Hal : 42

Kamis, 14 Maret 2019

LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

A.  Landasan Filosofis
Pendidikan senantiasa berhubungan dengan manusia apakah sebagai subjek,  objek maupun sebagai pengelola. Menurut M.J Langeved pendidikan atau mendidik adalah suatu upaya orang dilakukan secara sengaja untuk membantu anak atau orang yang belum dewasa dalam suatu lingkungan. Mengingat pendidikan adalah suatu proses yang disengaja tentu saja pendidikan adalah bertujuan atau memiliki tujuan yang harus dicapai.
Filsafat akan menentukan arah kemana peserta didik akan dibawa. Filsafat merupakan perangkat nilai-nilai yang melandasi dan membimbing ke arah pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena itu,  filsafat yang dianut oleh suatu bangsa atau kelompok masyarakat terntentu termasuk yang di anut oleh perorangan sekalipun akan sangat mempengaruhi terhadap pendidikan yang ingin di rasakan.
1. Landasan filosofis pendidikan idealisme
Menurut filsafat idealisme bahwa kenyataan atau realitas pada hakikatnya adalah bersifat spiritual dari pada bersifat fisik,  bersifat mental dari pada material. 
Isi kurikulum atau sumber pengetahuan dirancang untuk mengembangkan kemampuan berpikir manusia, menyiapkan keterampilan bekerja yang dilakukan melalui program dan proses pendidikan secara praktis. Implikasi bagi para pendidik,  yaitu bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi terselenggaranya pendidikan.  Pendidik harus memiliki keunggulan kompetitif baik dalam segi intelektual maupun moral sehingga dapat dijadikan panutan bagi peserta didik.
2. Landasan filosofis pendidikan realisme
Filsafat realisme dikatakan dari filsafat idealisme. Dimana menurut filsafat realisme memandang bahwa dunia atau realitas adalah materi.
Implikasi bagi para pendidik terutama bahwa peran pendidik diposisikan sebagai pengelola pendidikan atau pembelajaran. Untuk itu,  pendidik harus menguasai tugas-tugas yang terkait dengan pendidikan khususnya dengan pembelajaran seperti penguasaan terhadap metode,  media dan strategi serta teknik pembelajaran.  Secara metodologis unsur pembiasaan memiliki arti yang sangat penting dan diutamakan dalam mengimplementasikan program pendidikan atau pembelajaran filsafat realisme.
3. Landasan filosofis pendidikan fragmatisme
Filsafat fragmatisme memandang bahwa kenyataan tidaklah mungkin dan tidak perlu. Kenyataan yang sebenarnya adalah kenyataan fisik, plura dan berubah (becoming). Manusia menurut fragmatisme adalah hasil evaluasi biologis, psikologis dan sosial.  Manusia lahir tanpa dibekali oleh kemampuan bahasa, keyakinan, gagasan atau norma-norma.
4. Landasan filosofis pendidikan nasional
Tujuan pendidikan nasional di indonesia tentu saja bersumber pada pandangan dan cara hidup manusia indonesia,  yakni pancasila. Hal ini berarti bahwa pendidikan di indonesia harus membawa peserta didik agar menjadi manusia yang berpancasila. Dengan kata lain landasan dan arah yang ingin di wujudkan oleh pendidikan di indonesia adalah yang sesuai dengan kandungan falsafah pancasila itu sendiri. 
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,  berakhlak mulia,  sehat,  berilmu, cakap,  kreatif , mandiri dan menjadi warga negara demokratis serta bertanggung jawab (Passal 2 dan 3).

B. LANDASAN PSIKOLOGIS
Pendidikan senantiasa berkaitan dengan perilaku manusia, dalam proses pendidikan iti terjadi interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya.  Baik lingkungan yang bersifat fisik maupun lingkungan sosial. Melalui pendidikan diharapkan adanya perubahan perilaku peserta didik menuju kedewasaan,  baik dewasa secara segi fisik, mental emosional,  moral, intelektual maupun sosial.
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan lingkungan. Sedangkan kurikulum adalah upaya menentukan program pendidikan untuk merubah perilaku manusia. Oleh sebab itu dalam mengembangkan kurikulum harus dilandasi oleh psikologi sebagai acuan dalam menentukan apa dan bagaimana perilaku peserta didik itu harus dikembangkan. 
Pada dasarnya ada dua jenis psikologi yang memiliki kaitan sangat erat dan harus dijadikan sumber pemikiran dalam mengembangkan kurikulum yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan adalah ilmu atau studi yang mengkaji perkembangan manusia,  beserta kecenderungan perilaku yang ditunjukkannya.  Adapun psikologi belajar,  adalah suatu pendekatan atau studi yang mengkaji bagaimana manusia umumnya melakukan proses belajar.

C. LANDASAN SOSIOLOGIS, ILMU PENGETAHUAN, DAN TEKNOLOGI
pendidikan adalah sosial budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia.  Pendidikan adalah proses sosialisasi melalui interaksi insani menuju manusia yang berbudaya.  Dalam konteks inilah anak didik di hadapkan dengan budaya manusia,  dibina dan dikembangkan sesuai dengan nilai budayanya.  Serta di pupuk kemampuan dirinya menjadi manusia yang berbudaya.
Disisi lain,  bahwa pendidikan merupakan usaha menyiapkan subjek didik (siswa) menghadapi kehidupan yang selalu mengalami perubahan dengan pesat dan bahkan sulit untuk ditebak. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan pengajaran dan latihan bagi perannya di masa yang akan datang.
Teknologi adalah aplikasi dari ilmu pengetahuan ilmiah dan ilmu-ilmu lainnya untuk memecahkan masalah-masalah praktis.  Ilmu dan teknologi tidak bisa di pisahkan.  Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat seiring lajunya perkembangan masyarakat.
A.  Landasan sosiologis
Dilihat dari substansinya faktor sosiologis sebagai landasan dalam mengembangkan kurikulum dapat dikaji dari dua sisi yaitu dari sisi kebudayaan dan kurikulum serta dari unsur masyarakat dan kurikulum.
1. Kebudayaan dan kurikulum
Faktor kebudayaan merupakan bagian yang penting dalam pengembangan kurikulum dengan pertimbangan :
a. Individu lahir tidak berbudaya, baik dalam kebiasaan, cita-cita,  sikap, pengetahuan, keterampilan, dan lain sebagainya.
b. Kurikulum dalam setiap masyarakat pada dasarnya merupakan refleksi dari cara orang berpikir,  berasa,  bercita-cita atau kebiasaan-kebiasaan.
c. Seluruh nilai yang disepakati masyarakat dapat pula disebut kebudayaan. Oleh karena itu, kebudayaan dapat dikatakan sebagai suatu konsep yang memiliki kompleksitas tinggi.

2. Masyarakat dan kurikulum
Masyarakat adalah suatu kelompok individu yang di organisasikan mereka sendiri kedalam kelompok-kelompok berbeda. Kebudayaan hendaknya dibedakan dengan istilah masyarakat yang mempunyai arti suatu kelompok individu yang terorganisir yang berpikir tentang dirinya sebagai suatu yang berbeda dengan kelompok atau masyarakat lainnya.
Dalam konteks inilah kurikulum sebagai program pendidikan harus cepat menjawab tantangan dan tuntutan masyarakat. Untuk dapat menjawab tuntutan tersebut bukan hanya pemenuhan dari segi pendekatan dan strategi pelaksanaannya.  Oleh karena itu,  guru para pembina dan pelaksana kurikulum dituntut lebih peka mengantisipasi perkembangan masyarakat.
B. LANDASAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
Pendidikan merupakan usaha menyiapkan peserta didik menghadapi lingkungan hidup yang mengalami perubahan yang semakin pesat. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan bagi perannya dimasa akan datang.
Salah satu ciri masyarakat adalah selalu berkembang perkembangan masyarakat dipengaruhi oleh falsafah hidup, Nilai-nilai, IPTEK, dan kebutuhan yang ada dalam masyarakat. Perkembangan masyarakat menuntuk tersedianya proses pendidikan yang relevan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak membawa perubahan pada sisten nilai-nilai. Pendidikan pada dasarnya adalah bersifat normatif, dengan demikian bagaimana agar perubahan nilai-nilai yang di akibatkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa menuju pada perubahan yang bersifat positif.

Sumber : Http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND. _LUAR_BIASA/19620906198611-AHMAD_MULYADIPRANA/PDF/


A. Konsep penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah metode penellitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang ala...