Selasa, 28 Mei 2019

MENGIDENTIFIKASI DAN MENGANALISIS INTELEKTUALISME DAN SPIRITUALISME


MATERI 14
MENGIDENTIFIKASI DAN MENGANALISIS INTELEKTUALISME DAN
SPIRITUALISME
1.      Intelektualisme dan spiritualisme pendidikan.
A.    Intelektualisme Pendidikan
Pendidikan secara etimologi berasal dari kata didik yang berarti proses pengubahan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui pendidikan dan latihan. istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa yunani, yaitu paedagogie yang berarti bimbingan yang di berikan kepada anak.
Pendidikan dalam arti luas mencangkup seluruh proses hidup dan segenap bentuk interaksi individu dengan lingkungan, baik secara formal, non formal maupun informal, sampai dengan sutu taraf kedewasaan tertentu.
            Defenisi intelektualisme adalah akal budi atau intelegensi yang berarti kemampuan untuk meletakkan hubungan-hubungan dari proses berpikir. Dikatakan bahwa orang yang intelligent adalah orang yang dapat menyesuaikan persoalan dalam tempo yang lebih singkat, memahami masalah lebih cepat dan cermat, serta mampu bertindak cepat.
(mohammada asrori, 2009 : 48)

Tugas pendidikan intelektual mempunyai dua tugas yang penting, yaitu:
a)      Pembentukan fungsional
ialah mengembangkan fungsi-fungsi jiwa, seperti pengamatan, ingatan, fantasti, berfikir, dan kemauan.
b)      Pengembangan Material
Penddikan ntelektual di sebut pembentukan material jika di dalamnya bermaksud menambah ilmu pengetahuan atau bahan-bahan yang di butuhkan di dalam kehidupan manusia seperti tanggapan-tanggapan, pengertiaan, pengetahuan, dan keterampilan yang penting bagi kehidupan.

Perkembangan pendidikan intelektual
            Perkembangan manusia sepanjang hidup akan mengalami siklus dari sejak masa janin di kandungan hingga lahir, tumbuh menjadi bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan terakhir pada fase kematian. Agar individu  mencapai kebahagiaan lahir dan batin di dunia di akhirat. Pendidikan formal dan non formal itu sangatlah penting bagi seseorang individu atau seseorang anak di usia yang sudah memasuki dunia pendidikan, agar perkembangan fisik dan kognitif menjadi dasar penerapan strategi pengajar dan pendidikan yang mampu memaksimalkan potensi dengan baik dan seorang individu atau anak ini akan mencapai kebahagiaan lahir batin dunia dan akhirat.

B.     Spiritualisme Pendidikan
Pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan kehidupan manusia dari generasi ke generasi. Pendidikan menjadi tumpuan bahwa tuntutan kemajuan masyarakat dalam lintas zaman.
Spiritualisme berasal dari kata spirit yang berarti jiwa atau suma atau roh. spritualisme berarti kejiwaan , rohani, batin, mental atau moral. Spiritualisme mengacu pada kecerdasan hati, jiwa yang menurut terminology al-qur’an dan hadist nabi SAW. Sejarah membuktikan bahwa keduanya memiliki kemampuan yang sangat luar biasa dalam penyucian jiwa (tazkiyatun-nafs) dan ke sanggupan yang sangat dalam memperbaiki hati ( islah}ul-qalb).

Fungsi spiritualisme pendidikan
a.       Mengungkan segi perenial dalam struktur kecerdasan manusia
b.      Menumbuhkan kesehatan spiritualisme
c.       Menciptakan kedamaian spiritualisme
d.      Meraih ke damaian spiritualisme
e.       Merahih kearifah spiritualisme

Aspek-aspek kecerdasan spiritualisme
Khalil A. Khavari yng di kutip oleh novan ardy wiyani menyebut bahwa:
1)      Sudut pandang spiritualisme keagamaan.
2)      Sudut pandang relasi sosial keagamaan.
3)      Sudut pandang etik sosial.

2.      Filsafat Dalam Kurikulum 2013
Tulisan pada kurikulum 2013. Secara eksplist kurikulum 2013 berdasarkan berbagai fondasi aliran filsafat dan aliran filsafat pendidikan. hal yang positif dari berbagai aliran filsafat dan aliran filsafat pendidikan. Namun bila di tinjau lebih mendalam,  kurikulum 2013 lebih mementingkan tersampaikannya materi pembelajaran meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang di tentukan oleh para ahli  secara sentralistik berdasarkan tijauan mendalam, kurikulum 2013 lebih condong kepada aliran ideaisme, aliran filsafat pendidikan perenialisme dan esensialisme.
3.      Muatan Pendidikan Atas Problema kehidupan.
Pedidikan sebagai suatu sistem pembuka tidak lepas dari masalah baik mikro dan makro. Masalah mikro yaitu masalah yang timbul dalam komponen yang terdapat dalam pendidikan itu sendiri. Masalah makro yaitu masalah yang muncul dalam pendidikan itu dalam pendidikan itu sebagai suatu sistem dengan sistem lainnya. Berkait dengan masalah yang sering terjadi di Indonesia, guru di anggap di anggap sebagai sumber dari permasalahan tersebut sehingga dengan mengidentifikasi permasalahan pendidikan kita mengetahui letak permasalahan yang sebenarnya dan berusaha untuk memberikan solusi dari permasalahan tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
·         Nur Uhbiati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung; CV. Pustaka Setia, 1999)
·         Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta:Balai Pustaka, 2005),hal 857
·         Kelly, A.V. 2009. The Curriculum Theory and Practice, Los Angeles; Sage Publication.
·         Ramayulis.2015.Dasar-Dasar Kependidikan Suatu PengantarIlmu Pendidikan, Jakarta:Kalam Mulia
·         Salahudin annas. 2011. Filsafat Pendidikan, Bandung:Pustaka Setia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A. Konsep penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah metode penellitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang ala...