MATERI
14
MENGIDENTIFIKASI
DAN MENGANALISIS INTELEKTUALISME DAN
SPIRITUALISME
1. Intelektualisme
dan spiritualisme pendidikan.
A. Intelektualisme
Pendidikan
Pendidikan
secara etimologi berasal dari kata didik yang berarti proses pengubahan tingkah
laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui
pendidikan dan latihan. istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa
yunani, yaitu paedagogie yang berarti bimbingan yang di berikan kepada anak.
Pendidikan
dalam arti luas mencangkup seluruh proses hidup dan segenap bentuk interaksi
individu dengan lingkungan, baik secara formal, non formal maupun informal,
sampai dengan sutu taraf kedewasaan tertentu.
Defenisi intelektualisme adalah akal
budi atau intelegensi yang berarti kemampuan untuk meletakkan hubungan-hubungan
dari proses berpikir. Dikatakan bahwa orang yang intelligent adalah orang yang
dapat menyesuaikan persoalan dalam tempo yang lebih singkat, memahami masalah
lebih cepat dan cermat, serta mampu bertindak cepat.
(mohammada
asrori, 2009 : 48)
Tugas
pendidikan intelektual mempunyai dua tugas yang penting, yaitu:
a) Pembentukan
fungsional
ialah mengembangkan fungsi-fungsi jiwa,
seperti pengamatan, ingatan, fantasti, berfikir, dan kemauan.
b) Pengembangan
Material
Penddikan ntelektual di sebut
pembentukan material jika di dalamnya bermaksud menambah ilmu pengetahuan atau
bahan-bahan yang di butuhkan di dalam kehidupan manusia seperti
tanggapan-tanggapan, pengertiaan, pengetahuan, dan keterampilan yang penting
bagi kehidupan.
Perkembangan pendidikan intelektual
Perkembangan manusia sepanjang hidup
akan mengalami siklus dari sejak masa janin di kandungan hingga lahir, tumbuh
menjadi bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan terakhir pada fase kematian. Agar
individu mencapai kebahagiaan lahir dan
batin di dunia di akhirat. Pendidikan formal dan non formal itu sangatlah
penting bagi seseorang individu atau seseorang anak di usia yang sudah memasuki
dunia pendidikan, agar perkembangan fisik dan kognitif menjadi dasar penerapan
strategi pengajar dan pendidikan yang mampu memaksimalkan potensi dengan baik
dan seorang individu atau anak ini akan mencapai kebahagiaan lahir batin dunia
dan akhirat.
B.
Spiritualisme Pendidikan
Pendidikan
senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan kehidupan manusia
dari generasi ke generasi. Pendidikan menjadi tumpuan bahwa tuntutan kemajuan
masyarakat dalam lintas zaman.
Spiritualisme
berasal dari kata spirit yang berarti jiwa atau suma atau roh. spritualisme
berarti kejiwaan , rohani, batin, mental atau moral. Spiritualisme mengacu pada
kecerdasan hati, jiwa yang menurut terminology al-qur’an dan hadist nabi SAW.
Sejarah membuktikan bahwa keduanya memiliki kemampuan yang sangat luar biasa
dalam penyucian jiwa (tazkiyatun-nafs)
dan ke sanggupan yang sangat dalam memperbaiki hati ( islah}ul-qalb).
Fungsi
spiritualisme pendidikan
a. Mengungkan
segi perenial dalam struktur kecerdasan manusia
b. Menumbuhkan
kesehatan spiritualisme
c. Menciptakan
kedamaian spiritualisme
d. Meraih
ke damaian spiritualisme
e. Merahih
kearifah spiritualisme
Aspek-aspek
kecerdasan spiritualisme
Khalil
A. Khavari yng di kutip oleh novan ardy wiyani menyebut bahwa:
1) Sudut
pandang spiritualisme keagamaan.
2) Sudut
pandang relasi sosial keagamaan.
3) Sudut
pandang etik sosial.
2.
Filsafat Dalam Kurikulum 2013
Tulisan
pada kurikulum 2013. Secara eksplist kurikulum 2013 berdasarkan berbagai
fondasi aliran filsafat dan aliran filsafat pendidikan. hal yang positif dari
berbagai aliran filsafat dan aliran filsafat pendidikan. Namun bila di tinjau
lebih mendalam, kurikulum 2013 lebih
mementingkan tersampaikannya materi pembelajaran meliputi pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang di tentukan oleh para ahli secara sentralistik berdasarkan tijauan
mendalam, kurikulum 2013 lebih condong kepada aliran ideaisme, aliran filsafat
pendidikan perenialisme dan esensialisme.
3.
Muatan Pendidikan Atas Problema
kehidupan.
Pedidikan
sebagai suatu sistem pembuka tidak lepas dari masalah baik mikro dan makro.
Masalah mikro yaitu masalah yang timbul dalam komponen yang terdapat dalam
pendidikan itu sendiri. Masalah makro yaitu masalah yang muncul dalam
pendidikan itu dalam pendidikan itu sebagai suatu sistem dengan sistem lainnya.
Berkait dengan masalah yang sering terjadi di Indonesia, guru di anggap di anggap
sebagai sumber dari permasalahan tersebut sehingga dengan mengidentifikasi
permasalahan pendidikan kita mengetahui letak permasalahan yang sebenarnya dan
berusaha untuk memberikan solusi dari permasalahan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
·
Nur Uhbiati, Ilmu Pendidikan Islam,
(Bandung; CV. Pustaka Setia, 1999)
·
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa
Indonesia (Jakarta:Balai Pustaka, 2005),hal 857
·
Kelly, A.V. 2009. The Curriculum
Theory and Practice, Los Angeles; Sage Publication.
·
Ramayulis.2015.Dasar-Dasar Kependidikan
Suatu PengantarIlmu Pendidikan, Jakarta:Kalam Mulia
·
Salahudin annas. 2011. Filsafat
Pendidikan, Bandung:Pustaka Setia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar