Selasa, 28 Mei 2019

HAKIKAT DAN TEORI-TEORI DAN NILAI-NILAI KEBENARAN


MATERI 4
HAKIKAT DAN TEORI – TEORI KEBENARAN DAN NILAI

A.    KONSEP PENGETAHUAN
1.      PENGERTIAN
Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang mengadakan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terhadap obyek terjadi melalui panca indra manusia yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba dengan sendiri. Pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi terhadap obyek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2014).
Istilah “pengetahuan” merupakan padanan dari bahasa inggris “knowledge” yang berarti pengetahuan umum yang belum teruji kebenarannya. Dalam Encyclopedia of Philosophy, pengetahuan didefinisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). Rumusan ini mirip dengan pernyataan John Dewey yang memersepsikan pengetahuan dengan kebenaran (knowledge is a truth). Pengetahuan identik kebenaran, dan ini berarti pengetahuan haruslah benar. Sebab jika itu tidak benar, maka ia adalah kontradiksi (Nunu Burhanuddin, 2018: 62).
Dalam kamus filsafat dijelaskan bahwa pengetahuan adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam peristiwa ini yang mengetahui (subjek) memiliki yang diketahui (objek) di dalam dirinya sendiri sedemikian aktif sehingga yang mengetahui itu menyusun yang diketahui pada dirinya sendiri dalam kesatuan aktif.
2.      FUNGSI PENGETAHUAN
Setiap kegiatan yang dilakukan umumnya memberi manfaat. Pengetahuan merupakan upaya manusia yang secara khusus dengan objek tertentu, terstruktur, tersistematis, menggunakan seluruh potensi kemanusiaan dan dengan menggunakan metode tertentu. Pengetahuan merupakan sublimasi atau intisari dan berfungsi sebagai pengendali moral dari pada pluralitas keberadaan ilmu pengetahuan (Notoatmodjo, 2003 dalam Wawan & Dewi, 2011).
Melalui pengetahuanlah manusia mempunyai hubungan dengan dunia dan orang lain, dimana benda-benda dimanifestasikan dan orang-orang dikenal, dan bahwa tiap orang menghadiri dirinya. Pengetahuan menyebabkan manusia bisa berada di posisi yang lebih tinggi, dan sekaligus mengatasi batas-batas badan itu, yang diperlukan supaya pengetahuan bisa terjadi.
3.      SUMBER PENGETAHUAN
Pengetahuan adalah keadaan tahu, dan pengetahuan adalah semua yang diketahui. Dalam hal ini manusia ingin tahu, lantas ia mencari dan memperoleh pengetahuan. Nah yang diperolehnya itulah pengetahuan. Demikian menurut Ahmad Tafsir tentang pengetahuan.
Menurut Muhammad Hatta, pengetahuan adalah yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabiatnya maupun menurut kedudukannya tampak dari luar maupun menurut bangunnya dari dalam.
Sementara itu Jujun S. Surjasumantri menekankan bahwa hakikat pengetahuan merupakan segenap apa yang kita ketehui tentang suatu objek tertentu, termasuk di dalamnya ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia di samping berbagai pengetahuan lainnya seperti seni dan agama.
Ending Saifuddin Anshari membedakan pengetahuan menjadi empat, (1) pengetahuan biasa, pengetahuan tentang hal-hal biasa, yang sehari-hari; (2) pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang mempunyai sistematika tertentu; (3) pengetahuan filsufis, dan (4) pengetahuan teologis, yaitu pengetahuan keagamaan, pengetahuan tentang agama, bukan agama itu sendiri, atau pengetahuan tentang pemberitahuan Tuhan (wahyu).
Dari beberapa pendapat di atas, maka pengetahuan dapat dijelaskan sumber-sumbernya, yaitu pengetahuan yang bersumber pda indra, pengetahuan akal, pengetahuan intuisi, dan pengetahuan wahyu.
1.      Pengalaman Indriawi
Menurut aliran empirisme, segala macam pengetahuan yang kita peroleh adalah buah dari pengalaman-pengalaman indriawi. Sebagai aliran filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan, aliran empirisme cenderung mengecilkan peranan akal.
Pengetahuan indriawi bersifat parsial itu disebabkan oleh adanya perbedaan antara indera yang satu dengan yang lain, masing-masing indra menangkap aspek yang berbeda mengenai barang atau makhluk yang menjadi objeknya, jadi pengetahuan indriawi berada menurut perbedaan indra dan terbatas pada sensibilitas organ-organ tertentu. Hal ini dapat dilihat apabila kita memperhatikan pertanyaan seperti, bagaimana seorang bisa mengetahui e situ dingin? Jawabannya, karena “saya merasakan hal itu atau karena seorang ilmuwan telah merasakan seperti itu”.
2.      Rasionalisme
Inti dari pandangan rasionalisme adalah bahwa hanya dengan menggunakan prosedur tertentu dari akal kita bisa sampai pada pengetahuan yang sebenarnya, yaitu pengetahuan yang tidak mungkin salah. Menurut kaum rasionalistis, sumber pengetahuan, bahkan sumber satu-satunya, adalah akal budi manusia. Akal budilah yang member kita pengetahuan yang pasti benar tentang sesuatu. Konsekuensinya, kaum rasionalis menolak anggapan bahwa kita bisa menemukan pengetahuan melalui pamcaindra kita. Bagi mereka, akal budi saja sudah cukup member pemahaman bagi kita, terlepas dari pancaindra. Dengan demikian, akal budi saja bisa membuktikan bahwa ada dasar bagi pengetahuan kita, bahwa kita boleh merasa pasti dan yakin akan pengetahuan yang kita peroleh.


4.      FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGETAHUAN
Menurut Notoadmojo (2003) faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah sebagai berikut:
a)      Umur
Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan penyelidikan epidemiologinya. Angka – angka kesakitan maupun kematian hamper semua keadaan menunjukkan hubungan dengan umur. Persoalan yang dihadapi adalah apakah umur di laporkan tetap, apakah panjangnya interval didalam pengelompokkan cukup atau tidak.
b)      Pendidikan
Mendidik atau pendidik adalah dua hal yang saling berhubungan. Dari segi bahasa mendidik adalah kata kerja, pendidik kata benda. Kalau kita mendidik berarti kita melakukan suatu kegiatan atau tindakan, kegiatan mendidik menunjukkan adanya yang mendidik disuatu pihak yang dididik adalah suatu kegiatan yang mengandung antara dua manusia atau lebih.
c)      Pengalaman
Sudarmita (2002) mengatakan bahwa pengetahuan dapat terbentuk dari pengalaman dan ingatan yang didapat sebelumnya. Nanda (2005) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang terkait dengan kurang pengetahuan (deficient knowledge) terdiri dari: kurang terpapar informasi, kurang daya ingat/hapalan, salah menafsirkan informasi, keterbatasan kognitif, kurang minat untuk belajar dan tidak familiar terhadap sumber informasi (Nanda, 2005).

A.   KONSEP NILAI
1) PENGERTIAN
Nilai adalah esensi yang melekat pada sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan manusia, khususnya mengenai kebaikan dan tindak kebaikan suatu hal, Nilai artinya sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, ideal, nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan sosial penghayatan yang dikehendaki, disenangi, dan tidak disenangi.
Jadi nilai adalah sesuatu yang dipentingkanmanusia sebagai subyek menyangkut segala sesuatu baik atau yang buruk sebagai abstraksi, pandangan, atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi perilaku yang ketat.
Nilai sebagai daya pendorong dalam hidup, yang memberi makna dan pengabsahan pada tindakan seseorang. Nilai mempunyai dua segi intelektual dan emosional. Kombinasi kedua dimensi tersebut menentukan sesuatu nilai beserta fungsinya dalam kehidupan. Bila dalam pemberian makna dan pengabsahan terhadap suatu tindakan, unsur emosionalnya kecil sekali, sementara unsur intelektualnya lebih dominan, kombinasi tersebut disebut norma norma atau prinsip. Norma-norma atau prinsip-prinsip seperti keimanan, keadilan, persaudaraan dan sebagainya baru menjadi nilai-nilai apabila dilaksanakan dalam pola tingkah laku dan pola berfikir suatu kelompok, jado norma bersifat universal dan absolut, sedangkan nila-nilai khusus dan relatif bagi masing-masing kelompok.
2)      SUMBER NILAI
1)      Nilai Ilahi
Nilai Ilahi adalah nilai yang difitrathkan Tuhan melalui para rasul-Nya yang berbentuk iman, takwa, adil, yang diabadikan dalam wahyu Illahi.5 Nilai Illahi ini merupakan sumber utama bagi para penganutnnya. Dari agama, mereka menyebarkan nilai-nilai kebajikan untuk diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pada nilai Illahi ini, tugas dari manusia adalah menginterpretasikan serta mengplikasikan nilai-nilai itu dalam kehidupannya. Dengan interpretasi itu manusia akan mengetahui dan melaksanakan ajaran agama yang dianutnya.
2)      Nilai Insani
Nilai insani ialah nilai yang tumbuh atas dasar kesepakatan manusia serta hidup dan berkembang dari peradaban manusia, nilai ini bersifat dinamis. Nilai Illahi mempunyai relasi dengan nilai insani. Namun nilai Illahi (hidup etis religius) memiliki kedudukan vertikal yang lebih tinggi daripada nilai hidup lainya. Di samping hirarkinya lebih tinggi, nilai keagamaan mempunyai konsekuensi pada nilai lainya, dan sebaliknya nilai lainnya itu memerlukan nilai pijakan yang berupa nilai etis religius.
3)      FUNGSI NILAI
Nilai mempunyai fungsi sebagai standar dan dasar pembentukan konflik dan pembuat keputusan, motivasi dasar penyesuaian diri dan dasar perwujudan diri. Nilai sebagai sesuatu yang abstrak yang mempunyai sejumlah fungsi yang dapat kita cermati, antara lain:
1.      Nilai memberi tujuan atau arah (goals of purpose) kemana kehidupan harus menuju, harus dikembangkan atau harus diarahkan.
2.      Nilai memeberi aspirasi (aspirations) atau inspirasi kepada seseorang untuk hal yang berguna, baik, dan positif bagi kehidupan.
3.      Nilai mengarahkan seseorang untuk bertingkah laku (attitudes), atau bersikap sesuai dengan moralitas masyarakat, jadi nilai itu memberi acuan atau pedoman bagaimana seharusnya seseorang harus bertingkah laku.
4.      Nilai itu menarik (interests), memikat hati seseorang untuk dipikirkan, direnungkan, dimiliki, diperjuangkan, dan diahayati.
5.      Nilai itu mengusik perasaan (feelings), hati nurani seseorang ketika sedang mengalami berbagai perasaan, atau suasana hati, seperti senang, sedih, tertekan, bergembira, bersemangat, dll.
6.      Nilai terkait dengan keyakinan atau kepercayaan (beliefs and convictions) seseorang, terkait dengan nilai-nilai tertentu.
7.      Suatu nilai menuntut adanya aktivitas (activities) perbuatan atau tingkah laku tertentu sesuai dengan nilai tersebut, jadi nilai tidak berhenti pada pemikiran, tetapi mendorong atau menimbulkan niat untuk melakukan sesuatu sesuai dengan nilai tersebut.
8.      Nilai biasanya muncul dalam kesadaran, hati nurani atau pikiran seseorang ketika yang bersangkutan dalam situasi kebingungan, mengalami dilema atau mengahadapi berbagai persoalan hidup (worries, problems, obstacles).

B.   TEORI PENGETAHUAN DAN NILAI
1.      Teori Pengetahuan (Epistimologi)
Epistemologi dari bahasa yunani episteme (pengetahuan) dan Logos (ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang Filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungan dengan kebenaran dan keyakinan.
Epistemologi atau teori pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pertanyaan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indra dengan berbagai metode, diantaranya : metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.
1)    Menurut para Ahli
Pengertian Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Secara linguistik kata “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu: kata “Episteme” dengan arti pengetahuan dan kata “Logos” berarti teori, uraian, atau alasan.
Epistemologi dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan yang dalam bahasaInggris dipergunakan istilah theory of know ledge. Istilah epistemologi secara etimologis diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar dan dalam bahasa Indonesia disebut filsafat pengetahuan. Secara terminology epistemology adalah teori mengenai hakikat ilmu pengetahuan atau ilmu filsafat tentang pengetahuan. Masalah utama dari epistemologi adalah bagaimana cara memperoleh pengetahuan, Sebenarnya seseorang baru dapat dikatakan berpengetahuan apabila telah sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan epistemolog iartiny apertanyaan epistemologi dapat menggambarkan manusia mencintai pengetahuan.
Hal ini menyebabkan eksistensi epistemologi sangat urgen untuk menggambar manusia berpengetahuan yaitu dengan jalan menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah yang dipertanyakan dalam epistemologi. Makna pengetahuan dalam epistemologi adalah nilai tahu manusia tentang sesuatu sehingga ia dapat membedakan antara satu ilmu dengan ilmu yang lainnya.
2)      Objek dan tujuan Epistemologi
Kehidupan masyarakat sehari-hari, tidak jarang pemahaman objek disamakan dengan tujuan, sehingga pengertiannya menjadi rancu bahkan kabur. Jika diamati secara cermat, sebenarnya objek tidak sama dengan tujuan. Objek sama dengan sasaran sedangkan tujuan hamper sama dengan harapan. Meskipun berbeda, tetapi antara objek dan tujuan memiliki hubungan yang berkesinambungan, sebab objeklah yang mengantarkan tercapainya tujuan.
Sebagai sub sistem filsafat, epistemology atau teori pengetahuan yang untuk pertama kali digagas oleh Plato ini memiliki objek tertentu. Objek epistemology ini menurut Jujun S. Suria suamantri berupa“ segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.” Proses untuk memperolehn pengetahuan inilah yang mejadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan, sebab sasaran itu merupakan suatu tahap perantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujan. Tanpa suatu sasaran, mustahil tujuan bisa terealisir, sebaliknya tanpa suatu tujuan, maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali..
Jacques Martain mengatakan, “ tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu.”hal ini menunjukkan, bahwa tujuan epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan kendati pun keadaan ini tak bisa dihindari akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah hal lebih penting dari itu, yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan.
Rumusan tujuan epistemologi tersebut memiliki makna strategis dalam dinamika pengetuhuan.Rumusan tersebut menumbuhkan kesadaran seseorang bahwa jangan sampai kita puas dengan sekedar memperoleh pengetahuan, tanpa disertai dengan cara atau bekal untuk memperoleh pengetahuan, sebab keadaan memperoleh pengetahuan melambangkan sikappasif, sedangkan cara memperoleh pengetahuan melambangkan sikap dinamis.
2.      Teori Nilai (Aksiologi)
Aksiologi berasal dari kata Yunani: axion (nilai) dan logos (teori), yang berarti teori tentang nilai (Salam, 1997). Sumantri (1996) menyatakan aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dan pengetahuan yang diperoleh. Menurut kamus bahasa Indonesia, aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai khusunya etika.
Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri dan bagaimana manusia menggunakan ilmu tersebut. Jadi hakikat yang ingin dicapai aksiologi adalah hakikat manfaat yang terdapat dalam suatu pengetahuan. Objek kajian aksiologi adalah menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu karena ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral sehingga nilai kegunaan ilmu itu dapat dirasakan oleh masyarakat. Aksiologi disebut teori tentang nilai yang menaruh perhatian baik dan buruk (good and bad), benar dan salah (right and wrong), serta tata cara dan tujuan (mean and end). Dalam aksiologi ada dua komponen yang mendasar, yakni:
1.      Etika
Istilah etika berasal dari bahasa yunani “ethos” yang berarti adat kebiasaan. Dalam istilah lain dinamakan moral yang berasal dari bahasa latin “mores”, kata jamak dari mos yang berarti adat kebiasaan. Etika adalah cabang filsafat aksiologi yang membahas masalah-masalah moral, perilaku, norma, dan adat istiadat yang berlaku pada komunitas tertentu.
2.      Estetika
Estetika merupakan bidang studi manusia yang mempersoalkan tentang nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa didalam diri segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang tertata secara tertib dan harmonis dalam suatu hubungan yang utuh menyeluruh. Maksudnya adalah suatu objek yang indah bukan semata-mata bersifat selaras serta berpola baik melainkan harus juga mempunyai kepribadian.

Ada beberapa beberapa karakteristik nilai yang berkaitan dengan teori nilai (the theory of value), yaitu :
1.      Nilai objektif atau subjektif
Nilai itu objektif jika ia tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Sebaliknya nilai itu subjektif jika eksistensinya, maknanya, dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian, tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis atau fisik.
2.      Nilai absolute atau relative
Suatu nilai dikatakan absolute atau abadi, apabila nilai yang berlaku sejak masa lampau dan akan berlaku sepanjang masa, berlaku bagi siapapun tanpa memperhatikan ras, maupunkelas sosial.



 DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A. Konsep penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah metode penellitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang ala...