MATERI
4
HAKIKAT
DAN TEORI – TEORI KEBENARAN DAN NILAI
A.
KONSEP
PENGETAHUAN
1.
PENGERTIAN
Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini
terjadi setelah orang mengadakan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.
Penginderaan terhadap obyek terjadi melalui panca indra manusia yakni
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba dengan sendiri. Pada waktu
penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh
intensitas perhatian persepsi terhadap obyek. Sebagian besar pengetahuan
manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2014).
Istilah “pengetahuan” merupakan padanan dari bahasa
inggris “knowledge” yang berarti pengetahuan umum yang belum teruji
kebenarannya. Dalam Encyclopedia of
Philosophy, pengetahuan didefinisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief).
Rumusan ini mirip dengan pernyataan John Dewey yang memersepsikan pengetahuan
dengan kebenaran (knowledge is a truth). Pengetahuan
identik kebenaran, dan ini berarti pengetahuan haruslah benar. Sebab jika itu
tidak benar, maka ia adalah kontradiksi (Nunu Burhanuddin, 2018: 62).
Dalam kamus filsafat dijelaskan bahwa pengetahuan
adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari
kesadarannya sendiri. Dalam peristiwa ini yang mengetahui (subjek) memiliki
yang diketahui (objek) di dalam dirinya sendiri sedemikian aktif sehingga yang
mengetahui itu menyusun yang diketahui pada dirinya sendiri dalam kesatuan
aktif.
2.
FUNGSI PENGETAHUAN
Setiap kegiatan yang dilakukan umumnya memberi
manfaat. Pengetahuan merupakan upaya manusia yang secara khusus dengan objek
tertentu, terstruktur, tersistematis, menggunakan seluruh potensi kemanusiaan
dan dengan menggunakan metode tertentu. Pengetahuan merupakan sublimasi atau
intisari dan berfungsi sebagai pengendali moral dari pada pluralitas keberadaan
ilmu pengetahuan (Notoatmodjo, 2003 dalam Wawan & Dewi, 2011).
Melalui pengetahuanlah manusia mempunyai hubungan dengan dunia dan orang lain,
dimana benda-benda dimanifestasikan dan orang-orang dikenal, dan bahwa tiap
orang menghadiri dirinya. Pengetahuan menyebabkan manusia bisa berada di posisi
yang lebih tinggi, dan sekaligus mengatasi batas-batas badan itu, yang
diperlukan supaya pengetahuan bisa terjadi.
3. SUMBER PENGETAHUAN
Pengetahuan adalah keadaan tahu, dan pengetahuan adalah semua
yang diketahui. Dalam hal ini manusia ingin tahu, lantas ia mencari dan
memperoleh pengetahuan. Nah yang diperolehnya itulah pengetahuan. Demikian
menurut Ahmad Tafsir tentang pengetahuan.
Menurut Muhammad Hatta, pengetahuan adalah yang teratur
tentang pekerjaan hukum kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabiatnya
maupun menurut kedudukannya tampak dari luar maupun menurut bangunnya dari
dalam.
Sementara itu Jujun S. Surjasumantri menekankan bahwa hakikat
pengetahuan merupakan segenap apa yang kita ketehui tentang suatu objek
tertentu, termasuk di dalamnya ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari
pengetahuan yang diketahui oleh manusia di samping berbagai pengetahuan lainnya
seperti seni dan agama.
Ending Saifuddin Anshari membedakan pengetahuan menjadi
empat, (1) pengetahuan biasa, pengetahuan tentang hal-hal biasa, yang
sehari-hari; (2) pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang mempunyai
sistematika tertentu; (3) pengetahuan filsufis, dan (4) pengetahuan teologis,
yaitu pengetahuan keagamaan, pengetahuan tentang agama, bukan agama itu
sendiri, atau pengetahuan tentang pemberitahuan Tuhan (wahyu).
Dari beberapa pendapat di atas, maka pengetahuan dapat
dijelaskan sumber-sumbernya, yaitu pengetahuan yang bersumber pda indra,
pengetahuan akal, pengetahuan intuisi, dan pengetahuan wahyu.
1. Pengalaman Indriawi
Menurut
aliran empirisme, segala macam pengetahuan yang kita peroleh adalah buah dari
pengalaman-pengalaman indriawi. Sebagai aliran filsafat yang menekankan peranan
pengalaman dalam memperoleh pengetahuan, aliran empirisme cenderung mengecilkan
peranan akal.
Pengetahuan
indriawi bersifat parsial itu disebabkan oleh adanya perbedaan antara indera
yang satu dengan yang lain, masing-masing indra menangkap aspek yang berbeda
mengenai barang atau makhluk yang menjadi objeknya, jadi pengetahuan indriawi
berada menurut perbedaan indra dan terbatas pada sensibilitas organ-organ
tertentu. Hal ini dapat dilihat apabila kita memperhatikan pertanyaan seperti,
bagaimana seorang bisa mengetahui e situ dingin? Jawabannya, karena “saya merasakan
hal itu atau karena seorang ilmuwan telah merasakan seperti itu”.
2. Rasionalisme
Inti dari pandangan
rasionalisme adalah bahwa hanya dengan menggunakan prosedur tertentu dari akal
kita bisa sampai pada pengetahuan yang sebenarnya, yaitu pengetahuan yang tidak
mungkin salah. Menurut kaum rasionalistis, sumber pengetahuan, bahkan sumber
satu-satunya, adalah akal budi manusia. Akal budilah yang member kita
pengetahuan yang pasti benar tentang sesuatu. Konsekuensinya, kaum rasionalis
menolak anggapan bahwa kita bisa menemukan pengetahuan melalui pamcaindra kita.
Bagi mereka, akal budi saja sudah cukup member pemahaman bagi kita, terlepas
dari pancaindra. Dengan demikian, akal budi saja bisa membuktikan bahwa ada
dasar bagi pengetahuan kita, bahwa kita boleh merasa pasti dan yakin akan
pengetahuan yang kita peroleh.
4. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PENGETAHUAN
Menurut Notoadmojo (2003) faktor yang mempengaruhi
pengetahuan adalah sebagai berikut:
a) Umur
Umur adalah variabel
yang selalu diperhatikan penyelidikan epidemiologinya. Angka – angka kesakitan
maupun kematian hamper semua keadaan menunjukkan hubungan dengan umur.
Persoalan yang dihadapi adalah apakah umur di laporkan tetap, apakah panjangnya
interval didalam pengelompokkan cukup atau tidak.
b) Pendidikan
Mendidik atau pendidik
adalah dua hal yang saling berhubungan. Dari segi bahasa mendidik adalah kata
kerja, pendidik kata benda. Kalau kita mendidik berarti kita melakukan suatu
kegiatan atau tindakan, kegiatan mendidik menunjukkan adanya yang mendidik
disuatu pihak yang dididik adalah suatu kegiatan yang mengandung antara dua
manusia atau lebih.
c) Pengalaman
Sudarmita (2002)
mengatakan bahwa pengetahuan dapat terbentuk dari pengalaman dan ingatan yang
didapat sebelumnya. Nanda (2005) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang terkait
dengan kurang pengetahuan (deficient knowledge) terdiri dari: kurang terpapar
informasi, kurang daya ingat/hapalan, salah menafsirkan informasi, keterbatasan
kognitif, kurang minat untuk belajar dan tidak familiar terhadap sumber informasi
(Nanda, 2005).
A.
KONSEP NILAI
1) PENGERTIAN
Nilai adalah esensi yang melekat pada sesuatu yang
sangat berarti bagi kehidupan manusia, khususnya mengenai kebaikan dan tindak
kebaikan suatu hal, Nilai artinya sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau
berguna bagi kemanusiaan. Nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, ideal,
nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah
yang menuntut pembuktian empirik, melainkan sosial penghayatan yang
dikehendaki, disenangi, dan tidak disenangi.
Jadi nilai adalah sesuatu yang dipentingkanmanusia
sebagai subyek menyangkut segala sesuatu baik atau yang buruk sebagai
abstraksi, pandangan, atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi
perilaku yang ketat.
Nilai sebagai daya pendorong dalam hidup, yang
memberi makna dan pengabsahan pada tindakan seseorang. Nilai mempunyai dua segi
intelektual dan emosional. Kombinasi kedua dimensi tersebut menentukan sesuatu
nilai beserta fungsinya dalam kehidupan. Bila dalam pemberian makna dan
pengabsahan terhadap suatu tindakan, unsur emosionalnya kecil sekali, sementara
unsur intelektualnya lebih dominan, kombinasi tersebut disebut norma norma atau
prinsip. Norma-norma atau prinsip-prinsip seperti keimanan, keadilan,
persaudaraan dan sebagainya baru menjadi nilai-nilai apabila dilaksanakan dalam
pola tingkah laku dan pola berfikir suatu kelompok, jado norma bersifat
universal dan absolut, sedangkan nila-nilai khusus dan relatif bagi
masing-masing kelompok.
2) SUMBER NILAI
1) Nilai
Ilahi
Nilai Ilahi adalah
nilai yang difitrathkan Tuhan melalui para rasul-Nya yang berbentuk iman,
takwa, adil, yang diabadikan dalam wahyu Illahi.5 Nilai Illahi ini merupakan
sumber utama bagi para penganutnnya. Dari agama, mereka menyebarkan nilai-nilai
kebajikan untuk diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pada nilai Illahi
ini, tugas dari manusia adalah menginterpretasikan serta mengplikasikan
nilai-nilai itu dalam kehidupannya. Dengan interpretasi itu manusia akan
mengetahui dan melaksanakan ajaran agama yang dianutnya.
2) Nilai
Insani
Nilai insani ialah
nilai yang tumbuh atas dasar kesepakatan manusia serta hidup dan berkembang
dari peradaban manusia, nilai ini bersifat dinamis. Nilai Illahi mempunyai
relasi dengan nilai insani. Namun nilai Illahi (hidup etis religius) memiliki
kedudukan vertikal yang lebih tinggi daripada nilai hidup lainya. Di samping
hirarkinya lebih tinggi, nilai keagamaan mempunyai konsekuensi pada nilai
lainya, dan sebaliknya nilai lainnya itu memerlukan nilai pijakan yang berupa
nilai etis religius.
3) FUNGSI NILAI
Nilai mempunyai fungsi sebagai standar dan dasar
pembentukan konflik dan pembuat keputusan, motivasi dasar penyesuaian diri dan
dasar perwujudan diri. Nilai sebagai sesuatu yang abstrak yang mempunyai
sejumlah fungsi yang dapat kita cermati, antara lain:
1. Nilai memberi tujuan atau arah (goals of purpose)
kemana kehidupan harus menuju, harus dikembangkan atau harus diarahkan.
2. Nilai memeberi aspirasi (aspirations) atau inspirasi
kepada seseorang untuk hal yang berguna, baik, dan positif bagi kehidupan.
3. Nilai mengarahkan seseorang untuk bertingkah laku
(attitudes), atau bersikap sesuai dengan moralitas masyarakat, jadi nilai itu
memberi acuan atau pedoman bagaimana seharusnya seseorang harus bertingkah
laku.
4. Nilai itu menarik (interests), memikat hati seseorang
untuk dipikirkan, direnungkan, dimiliki, diperjuangkan, dan diahayati.
5. Nilai itu mengusik perasaan (feelings), hati nurani
seseorang ketika sedang mengalami berbagai perasaan, atau suasana hati, seperti
senang, sedih, tertekan, bergembira, bersemangat, dll.
6. Nilai terkait dengan keyakinan atau kepercayaan
(beliefs and convictions) seseorang, terkait dengan nilai-nilai tertentu.
7. Suatu nilai menuntut adanya aktivitas (activities)
perbuatan atau tingkah laku tertentu sesuai dengan nilai tersebut, jadi nilai
tidak berhenti pada pemikiran, tetapi mendorong atau menimbulkan niat untuk
melakukan sesuatu sesuai dengan nilai tersebut.
8. Nilai biasanya muncul dalam kesadaran, hati nurani
atau pikiran seseorang ketika yang bersangkutan dalam situasi kebingungan,
mengalami dilema atau mengahadapi berbagai persoalan hidup (worries, problems,
obstacles).
B.
TEORI PENGETAHUAN DAN NILAI
1. Teori Pengetahuan (Epistimologi)
Epistemologi dari bahasa yunani episteme
(pengetahuan) dan Logos (ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan
asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang
paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang Filsafat, misalnya tentang
apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungan dengan
kebenaran dan keyakinan.
Epistemologi atau teori pengetahuan yang berhubungan
dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya
serta pertanggung jawaban atas pertanyaan mengenai pengetahuan yang dimiliki
oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan
panca indra dengan berbagai metode, diantaranya : metode induktif, metode
deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.
1)
Menurut para
Ahli
Pengertian
Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan
hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dan dasar-dasarnya
serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.
Secara linguistik kata “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu: kata
“Episteme” dengan arti pengetahuan dan kata “Logos” berarti teori, uraian, atau
alasan.
Epistemologi
dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan yang dalam bahasaInggris
dipergunakan istilah theory of know ledge. Istilah epistemologi secara
etimologis diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar dan dalam bahasa
Indonesia disebut filsafat pengetahuan. Secara terminology
epistemology adalah teori mengenai hakikat ilmu pengetahuan atau ilmu filsafat
tentang pengetahuan. Masalah utama dari epistemologi adalah bagaimana cara
memperoleh pengetahuan, Sebenarnya seseorang baru dapat dikatakan
berpengetahuan apabila telah sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan epistemolog
iartiny apertanyaan epistemologi dapat menggambarkan manusia mencintai
pengetahuan.
Hal ini menyebabkan
eksistensi epistemologi sangat urgen untuk menggambar manusia berpengetahuan
yaitu dengan jalan menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah yang
dipertanyakan dalam epistemologi. Makna pengetahuan dalam epistemologi adalah
nilai tahu manusia tentang sesuatu sehingga ia dapat membedakan antara satu
ilmu dengan ilmu yang lainnya.
2) Objek
dan tujuan Epistemologi
Kehidupan masyarakat
sehari-hari, tidak jarang pemahaman objek disamakan dengan tujuan, sehingga
pengertiannya menjadi rancu bahkan kabur. Jika diamati secara cermat,
sebenarnya objek tidak sama dengan tujuan. Objek sama dengan sasaran sedangkan
tujuan hamper sama dengan harapan. Meskipun berbeda, tetapi antara objek dan
tujuan memiliki hubungan yang berkesinambungan, sebab objeklah yang mengantarkan
tercapainya tujuan.
Sebagai sub sistem
filsafat, epistemology atau teori pengetahuan yang untuk pertama kali digagas
oleh Plato ini memiliki objek tertentu. Objek epistemology ini menurut Jujun S.
Suria suamantri berupa“ segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk
memperoleh pengetahuan.” Proses untuk memperolehn pengetahuan inilah yang
mejadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan
tercapainya tujuan, sebab sasaran itu merupakan suatu tahap perantara yang
harus dilalui dalam mewujudkan tujan. Tanpa suatu sasaran, mustahil tujuan bisa
terealisir, sebaliknya tanpa suatu tujuan, maka sasaran menjadi tidak terarah
sama sekali..
Jacques Martain
mengatakan, “ tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab
pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang
memungkinkan saya dapat tahu.”hal ini menunjukkan, bahwa tujuan epistemologi
bukan untuk memperoleh pengetahuan kendati pun keadaan ini tak bisa dihindari
akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah hal
lebih penting dari itu, yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh
pengetahuan.
Rumusan tujuan
epistemologi tersebut memiliki makna strategis dalam dinamika
pengetuhuan.Rumusan tersebut menumbuhkan kesadaran seseorang bahwa jangan
sampai kita puas dengan sekedar memperoleh pengetahuan, tanpa disertai dengan
cara atau bekal untuk memperoleh pengetahuan, sebab keadaan memperoleh
pengetahuan melambangkan sikappasif,
sedangkan cara memperoleh pengetahuan melambangkan sikap dinamis.
2. Teori Nilai (Aksiologi)
Aksiologi berasal dari kata Yunani: axion (nilai)
dan logos (teori), yang berarti teori tentang nilai (Salam, 1997). Sumantri
(1996) menyatakan aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan
dan pengetahuan yang diperoleh. Menurut kamus bahasa Indonesia, aksiologi
adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang
nilai-nilai khusunya etika.
Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang
membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri dan bagaimana manusia
menggunakan ilmu tersebut. Jadi hakikat yang ingin dicapai aksiologi adalah
hakikat manfaat yang terdapat dalam suatu pengetahuan. Objek kajian aksiologi
adalah menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu karena ilmu harus disesuaikan
dengan nilai-nilai budaya dan moral sehingga nilai kegunaan ilmu itu dapat
dirasakan oleh masyarakat. Aksiologi disebut teori tentang nilai yang menaruh
perhatian baik dan buruk (good and bad), benar dan salah (right and wrong),
serta tata cara dan tujuan (mean and end). Dalam aksiologi ada dua komponen
yang mendasar, yakni:
1. Etika
Istilah etika berasal
dari bahasa yunani “ethos” yang berarti adat kebiasaan. Dalam istilah lain
dinamakan moral yang berasal dari bahasa latin “mores”, kata jamak dari mos
yang berarti adat kebiasaan. Etika adalah cabang filsafat aksiologi yang
membahas masalah-masalah moral, perilaku, norma, dan adat istiadat yang berlaku
pada komunitas tertentu.
2. Estetika
Estetika merupakan
bidang studi manusia yang mempersoalkan tentang nilai keindahan. Keindahan
mengandung arti bahwa didalam diri segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang
tertata secara tertib dan harmonis dalam suatu hubungan yang utuh menyeluruh.
Maksudnya adalah suatu objek yang indah bukan semata-mata bersifat selaras
serta berpola baik melainkan harus juga mempunyai kepribadian.
Ada beberapa beberapa karakteristik nilai yang
berkaitan dengan teori nilai (the theory of value), yaitu :
1. Nilai objektif atau subjektif
Nilai
itu objektif jika ia tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai.
Sebaliknya nilai itu subjektif jika eksistensinya, maknanya, dan validitasnya
tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian, tanpa mempertimbangkan
apakah ini bersifat psikis atau fisik.
2. Nilai absolute atau relative
Suatu
nilai dikatakan absolute atau abadi, apabila nilai yang berlaku sejak masa
lampau dan akan berlaku sepanjang masa, berlaku bagi siapapun tanpa
memperhatikan ras, maupunkelas sosial.
- Sutarjo Adisusilo, JR.(2012). Pembelajaran Nilai Karakter. Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada
- http://eprints.walisongo.ac.id/4007/3/103111008_bab2.pdf
- http://digilib.uinsby.ac.id/1464/5/Bab%202.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar