Selasa, 28 Mei 2019

PENDEKATAN MODEL,DAN PROSEDUR PENGEMBANGAN PAUD


MATERI 7
PENDEKATAN MODEL,DAN PROSEDUR PENGEMBANGAN PAUD

1.      Pendekatan Pengembangan Kurikulum, Dan Sudut Pandang Kebijakan Pengembangan Kurikulum, Pengorganisasikan Isi Kurikulum Dan Orientasi Penyusunan Kurikulum.
Kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik untuk mendapatkan ijazah yang mereka inginkan. Dari sudut pandang kebijakan kurikulum dapat diartikan sebagai bahwa kurikulum muncul sebagai implikasi dari adanya berbagai aliran dalam antara pendidikan klasik dan modern yang mana akan melahirkan konsep kurikulum yang rasionalisme atau bisa juga disebut subjek akademis.
Dalam organisasi kurikulum dapat diartikan susunan pengalaman pembagian buku yang harus disampaikan dan dilakukan peserta didik menguasai kompetensi yang ditetapkan. Pengalaman tersebut dapat dirasakan langsung oleh peserta didik sebagai hasil secara langsung dengan dunia sekitarnya, organisasi kurikulum berhubungan erat dengan kualitas ilmu pengalaman belajar peserta didik.
Pada orientasi penyusunan kurikulum yaitu dimana isi kurikulum materi yang di susun oleh para ahli terbagi dua yaitu Unifield atau Consetraid Intregrated maksudnya yaitu system yang menggunakan jenis dan bentuk evaluasi yang bervariasi seperti tes dan non tes evaluasi ini lebih mengutamakan hasil sesuai dengan criteria pencapaian.

2.      Model – Model Pengembangan Kurikulum
a.      Model konsep humanistic
1.      Konsep dasar
Kurikulum humanistic dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanistik. Aliran ini lebih memberikan tempat utama kepada siswa. Mereka bertolak dari asumsi bahwa anak atau siswa adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan. Ia adalah subjek yang menjadi pusat kegiatan pendidikan.
Tujuan pengajaran adalah memperluas kesadaran diri sendiri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan. Ada beberapa aliran yang termasuk dalam pendidikan humanistik yaitu pendidikan : konfluen, kritikisme radikal, dan mistikisme modern.

2.      Kurikulum konfluen
Kurikulum konfluen dikembangkan oleh para ahli pendidikan konfluen, yang ingin menyatukan segi – segi afektif (sikap, perasaan, nilai) dengan segi – segi kognitif (kemampuan intelegtual). Pendidikan konfluen kurang menekankan pengetahuan yang mengandung (segi afektif).

3.      Beberapa cirri kurikulum konfluen
Kurikulum konfluen mempunyai beberapa ciri utama yaitu :
a.       Partisipasi
b.      Integrasi
c.       Relevansi
d.      Pribadi anak
e.       Tujuan
Dasar dari kurikulum konfluen adalah psikologi gestalt yang menekankan keutuhan, kesatuan, keseluruhan. Teori yang mendukung pandangan ini adalah eksistensialisme yang memusatkan perhatiannya pada apa yang terjadi sekarang di tempat ini.
4.      Metode – metode belajar konfluen
Para pengembang kurikulum konfluen telah menyusun kurikulum untuk berbagai bidang pengajaran. Kurikulum tersebut mencakup tujuan, topik – topik yang akan dipelajari, alat – alat pelajaran, dan buku teks. Pelajaran konfluen juga telah tersusun dalam bentuk rencana – rencana pelajaran, unit – unit pelajaran yang telah diujicobakan. Kebanyakan bahan tersebut diajarkan dengan teknik afektif.
b.      Model subjek akademik
Model konsep kurikulum ini adalah model yang tertua, sejak sekolah yang pertama berdiri, kurikulumnya mirip dengan tipe ini.
Kurikulum subjek akademik bersumber dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang berorientasi pada masa lalu. Semua ilmu pengetahuan dan nilai – nilai telah ditemukan oleh para pemikir masa lalu. Fungsi pendidikan memelihara dan mewariskan hasil – hasil budaya masa lalu tersebut. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan.
Pendekatan utama adalah perkembangan kemampuan intelektual, yaitu membangkitkan penghargaan dan keyakinan akan memapuan sendiri dan memberikan serangkaian cara kerja yang memungkinkan anak walaupun dengan cara sederhana mampu menganalisis kehidupan social.
Pendekatan kedua adalah studi yang bersifat integratif. Pendekatan ini merupakan respons terhadap perkembangan masyarakat yang menuntut model – model pengetahuan yang lebih komprehensif – terpadu.
Pendekatan ketiga adalah pendekatan yang dilaksanakan pada sekolah – sekolah fundamentalis. Mereka tetap mengajar berdasarkan mata – mata pelajaran dengan menekankan membaca, menulis, dan memecahkan masalah – masalah matematis.
c.       Model rekonstruksi sosial
kurikulum rekonstruksi sosial berbeda dengan model – model kurikulum lainnya. Kurikulum ini lebih memusatkan perhatian pada problema – problema yang dihadapinya dalam masyarakat.
1.      Desain kurikulum rekonstruksi sosial
Ada beberapa cirri dari desain kurikulum yaitu :
a.       Asumsi
b.      Masalah – masalah social yang mendesak
c.       Pola – pola organisasi
2.      Komponen – komponen kurikulum
a.       Tujuan dan isi kurikulum
b.      Metode
c.       Evaluasi
3.      Pelaksanaan pengajaran rekonstruksi sosial
Pengajaran rekontruksi sosial banyak dilaksanakan di daerah – daerah yang tergolong belum maju dan tingkat ekonominya juga belum tinggi. Pelaksanaan pengajaran ini diarahkan untuk meningkatkan kondisi kehidupan mereka. Sesuai dengan potensi yang ada dalam masyarakat, sekolah mempelajari potensi – potensi tersebut, dengan bantuan biaya dari pemerintah sekolah berusaha mengembangkan potensi tersebut.  Didaerah pertanian umpamanya sekolah mengembangkan bidang pertanian dan peternekan, didaerah intruksi mengembangkan bidang – bidang industri.

d.      Teknologi dan kurikulum
Abad dua puluh ditandai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Perkembangan teknologi mempengaruhi setiap bidang dan aspek kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Sejak dahulu teknologi telah diterapkan dalam pendidikan, tetapi yang digunakan adalah teknologi sederhana seperti penggunaan papan tulis dan kapur, pena dan tinta, sabak dan grip, dll.
Beberapa ciri kurikulum teknologis yaitu :
1.      Tujuan
2.      Metode
3.      Organisasi bahan ajar
4.      Evaluasi

3.      Prosedur Pengembangan Kurikulum Tematik
Penggunaan kurikulum tematik disekolah mengarah kepada peningkatan mutu pendidikan dan pembelajaran. Kurikulum ini sangat mendukung terhadap kurikulum 2004. Penggunaan model kurikulum tematik ini berimplikasikan pada proses penciptaan situasi belajar dan mengajar dimana siswa mempelajari beberapa mata pelajaran secara terpadu dan satu mata.
Pemersatu model kurikulum tematik disekolah juga memberi peluang untuk membangun pengetahuan secara utuh dengan ilmu pelajaran (Robin Forgety 1991) didalam kurikulum tematik system luwes diterapkan dimana pendidik dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan pelajaran lainnya bahkan mengkaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan sekolahnya.
Adapun karakteristik dari kurikulum tematik ini menurut tim pengembang PG-SD 1997 adalah (Abdul Madjid 2014 : 127) yaitu :
1.      Haustik yaitu peristiwa yang menjadi pusat perhatian
2.      Bermakna yaitu pengkajian fenomena dari berbagai aspek
3.      Autentik yaitu siswa paham secara langsung konsep ajar
4.      Aktif yaitu siswa secara aktif dapat mengembangkan pelajarannya.
Dari uraian yang diatas dapat disimpulkan kurikulum tematik sesungguhnya telah di pikirkan dan dirancang untuk memudahkan anak dalam belajar.
4.      Manfaat Pengembangan Kurikulum Tematik
Sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam berhasilnya penerapan pengembangan kurikulum tematik ini adalah guru, dimana guru dituntut untuk kreatif dalam ide dan memiliki jiwa inovatif.
Manfaat dari kurikulum ini adalah pelajaran ini dapat memberikan pengalaman langsung pada siswa, dengan pengalaman langsung tersebut siswa di harapkan pada sesuatu yang nyata dan siswa juga diberikan kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Yang paling menarik dari manfaat pengembangan kurikulum tematik ini adalah menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan sehingga siswa tidak merasa terbebani oleh pelajaran yang dihadapinya juga terhadap guru, dimana guru lebih senang dengan sesuatu yang sudah biasa dilakukannya tanpa diberangi pemahaman yang tuntas dan inovasi yang dikembangkan.



DAFTAR PUSTAKA
·         Arifin Zainal. 2011. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung : PT Remaja Rosda karya.
·         Nurdin Syafrudin. 2006. Kurikulum dan Pembelajaran. Depok : PT Raja Grafindo Persada.
·         Hamalik Oemar. 2007. Dasar – dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung : PT Remaja Rosda karya.
·         Sukmadinata Syaodih Nana. 1997. Pengembangan Kurikulum Teori dan Pratik. Bandung : PT Remaja Rosda Karya.
·         Yani Ahmad.2014.Minset Kurikulum 2013.Bandung:Alfabetha CV.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A. Konsep penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah metode penellitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang ala...