MATERI
9-11
ALIRAN
FILSAFAT DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN
1. Progresivisme
a.
Latar belakang
Aliran
progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam
semua realita kehidupan agar manusia bisa survive menghadapi semua tantangan
hidup. Dalam pandangan progmatisme, Suatu keterangan yang benar sesuai dengan
kualitas kenyataannya (Rasjidi, 1965:18). aliran progmativisme memiliki
kemajuan dalam bidang ilmu.
b.
Tokoh dan pengaruhnya dalam pendidikan
Ø William
James
William james lahir di New York, 11
januari 1842 dan meninggal di Choruroa agustus 1910. Beliau adalah seorang
psikologi dan fisual amerika yang sangat terkenal Paham dan ajarannya juga
kepribadiannya sangat perpengaruh di berbagian Negara Eropa dan Amerika.
c.
Strategi progresivisme
Filsafat
progrativisme sama dengan pragmatisme. Penamaan filsafat progresivisme atau
pragmatism ini merupakan perwujudan dari ide asal waktunya. Artinya filsafat
progresivisme di pengaruhi ide - ide dasar filsafat pragmatism yang telah
memberikan konsep dasar dengan asas yang utama, Agar manusia bisa survive
menghadapi semua tantangan hidup dan pragmatis dalam memandang kehidupan.
d.
Pendidikan
Pendidikan
sebagai alat memproses dan merekontruksi kebudayaan harus dapat menciptakan
situasi yang edukatif, dan memberikan warna, corak dari anak didik yang
berkualitas unggul, kompetitif, iniditif adaptif dan kreatif.
·
Asas belajar
Mempunyai konsep bahwa anak didik akal
dan kecerdasan yang merupakan potensi kelebihan manusia dengan makhluk lain.
·
Pandangan kurikulum progresivisme
Kurikulum program pembelajaran dapat
mempengaruhi anak untuk belajar edukatif baik di lingkungan sekolah dan di
luar.
·
Pandangan progresivisme tentang budaya
Budaya sebagai hasil manusia dalam
berbagai bentuk dan manifestasinya sepanjang sejarah akan dikenal sebagai milik
manusia yang tidak kaku.
e.
Potret guru progresivisme
·
Sebagai fasilitator
·
Sebagai motivator
·
Sebagai konselor
Guru menurut pandangan filsafat
progresivisme adalah sebagai nasehat, pembimbing pengarah dan bukan sebagai
orang pemegang otoritas yang penuh.
2. Aliran
Perenailisme
a.
Latar Belakang
Perenialisme berasal dari kata
perenial diartikan sebagai lasting for a
very long time yang artinya abadi atau kekal dan baqa berarti tiada akhir.
Dengan demikian esensi kepercayaan filsafat perenial ialah berpegang pada
nilai-nilai atau norma-norma yang bersifat abadi. Sesuai dengan namanya
perenialisme yang berarti segala sesuatu yang ada sepanjang sejarah ini akan
dianggap suatu aliran yang ingin kembali kepada nilai-nilai masa lalu dengan
maksud mengembalikan keyakinan akan nilai-nilai asasi manusia masa silam untuk
menghadapi probelmatika kehidupan manusia masa sekarang dan sampai kapanpun.
Menurut Huxley, prinsip-prinsip
dasar filsafat perenialisme dapat ditemukan diantara legenda-legenda dan mitos
kuno yang berkembang dalam masyarakat primitif diseluruh penjuru dunia. Jadi
filsafat perenialisme pada dasarnya mengkaji sesutau yang ada dan akan selalu
ada dan menawarkan pandangan alternatif agar manusia kembali kepada akar-akar
spritualitas dirinya tanpa tenggelam dalam gemerlap kehidupan materi yang seringkali
membuat kita silau dan menimbulkan berbagai tindakan yang tidak sesuai dengan
kemanusiaan. Sehingga dengan kembali ke spritualitas dirinya, manusia akan
kembali memiliki pandangan dunia holistic
tentang dirinya, tentang alam, tentang dunianya.
b.
Tokoh dan Pengaruhnya dalam Pendidikan
1. Menurut
Plato, ilmu pengetahuan dan nilai sebagai manifestasi dari hukum universal yang
abadi dan ideal sehingga ketertiban sosial hanya akan mungkin dicapai bila ide
itu menjadi tolak ukur yang memiliki asas normative dalam semua aspek
kehidupan.
2. Menurut
psikolgi Plato manusia secara kodrati memiliki tiga potensi yaitu nafsu,
kemauan dan akal. Ketiga potensi ini merupakan asas bagi bangunan kepribadian
dan watak manusia. Ketiga potensi ini akan tumbuh dan berkembang melalui
pendidikan, sehingga ketiganya berjalan secara seimbang dan harmonis.
Pendidikan dalam hal ini hendaklah berorientasi pada potensi psikologis
masyarakat, sehingga dapat mewujudkan pemebuhan kelas-kelas sosial dalam
masyarakat tersebut.
3. Menurut
Aristoteles orientasi pendidikan ditujukan kepada kebahagiaan, melalui
pengembangan kemampuan-kemampuan kerohanian seeperti emosi, kognisi serta
jasmaniah manusia.
4. Menurut
Thomas Aquino bahwa tujuan pendidikan sebagai usaha untuk merealisasikan
kapasitas dalam tiap individu manusia sehingga menjadi aktualis. Out-Put yag
diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan
karya-karya menjadi lanadasan pengembangan disiplin mental. Tugas seorang
pendidik ialah mempersiapkan peserta didik kearah kematangan intelektualnya.
Dengan intelektualnya peserta didik dapat hidup bahagaia dei kebaikan hidupnya
sendiri. Jadi, dengan pengembangan akal atau pikiranyya maka
akan
dapat mempertinggi kemampuannya.
c. Strategi Perenialisme
strategi dalam
aliran filsafat ini adalah memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau
proses dan memberi sumbangan yang berpengaruh pada dunia pendidikan (Muhammad
nor syam : 1986 : 296) dan penguasaan pengetahuan mengenai prinsip – prinsip
pelajaran adalah modal utama bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan
kecerdasannya.
d. Pendidikan
Filsafat
perenialisme dalam pendidikan lahir pada abad ke-20. Perenialisme lahir dari
sauatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan
progersivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme
memandang situasi dunia dewasa ini penuh dengan kekacauan, ketidakpastian,
terutama dalam kehidupan moral, intelektual, dan sosio-kultural.
Solusi yang ditawarkan kaum
perenialis adalah dengan jalan mundur kebelakang dengan menggunakan kembali
nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang
kukuh, kuat pada zaman kuno dan abad pertengahan.
Peradaban –kuno (yunani purba) dan
abad pertengahan dianggap sebagai dasar budaya bangsa-bangsa di dunia dari masa
kuno dan dari abad ke abad. Oleh karena itu, perenialisme memandang pendidikan
sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang
seperti dalam kebudayaan ideal yang dimaksud , educationas cultural regression.
Perenialisme
tidak melihat jalan yang meyakinkan selain kembali kepada prinsip-prinsip yang
telah sedemikian membentuk sikap kebiasaan, bahkan kepribadian manusia selain
kebudayaan dahulu dan kebudayaan abad pertengahan. Perenialisme tidak memiliki
kepercayaan diri bahwa zaman ini tidak akan berubah menjadi baik jika tidak
kembali pada nilai-nilai buadaya lama yang dianggap ideal dan sudah mapan
(Ahmad, 2014:100-101).
e. Potret Guru Perenialisme
Guru
mempunyai peranan yang dominan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar
dikelas. Guru dipandang sebagai orang yang mempunyai otoritas dalam suatu
bidang pengetahuan dan keahliannya tidak diragukan. Ny. Berstein mengajar
bahasa inggris di SMU sejak pertengahan tahun 1960-an. Diantara para siswa da
juga, ia memiliki suatu reputasi sebagai orang yang banyak menuntut.
Selama
pertengahan 1970-an , ia miliki waktu yang sulit untuk berhubungan dengan siswa
yang secara agresif menuntut diajar pelajaran-pelajaran yang relevan. Sebagai
seorang lulusan universitas top di Timur Amerika dimana ia menerima suatu
pendidikan kalsik dan liberal, Ny. Berstein menolaak untuk memperlonggar
penekanan pada karya-karya besar kesussastraan dikelasnya yang ia rasa perlu
diketahui oleh para siswanya.
Ny,
berstein yakin bahwa kerja dan usaha keras itu penting jika seseorang ingin
memperoleh pendidikan yang baik. Akibatnya, ia memberi siswa kesempatan yang
sangat sedikit untuk berbuat / bertindak salah, dan ia tampak tahu dengan
keluhan siswa yang dilakukan secara terbuka mengenai beban belajarnya. Ia
sangat bersemangat ketika berbicara mengenai nilai karya klasik pada para siswa
yang sedang bersiap-siap hidup sebagai orang dewasa di abad ke-21.
3. Aliran
Esensialisme
a. Latar
Belakang
Kata
Esensialisme menurut kamus besar bahasa Indonesia terdapat dua kata, yaitu
‘esensi”yang berarti hakikat, inti, dasar” dan ditambahkan menjadi “esensial”
yang berarti sangat berprinsip, sangat berpengaruh, samgat perlu” (Santoso,
2012 : 162). Dengan demikian aliran esensialisme adalah aliran yang
mengembalikan segala sesuatu pada hakikat dasar yang sebenarnya. Esensialisme
berusaha mencari dan mempertahankan hal-hal yang esensial, yaitu sesuatu yang
bersifat inti atau hakikat fundamental, atau unsure mutlak yang menentukan
keberadaan sesuatu (Wahyuni, 2010 :14). Oleh karena itu filsafat esensialisme
adalah suatu aliran filsafat yang merupakan perpaduan ide filsafat
idealism-objektif dan realism-objektif (Muhmidayeli, 2013:162).
Esensialisme
muncul pada pada zaman Reinaisance dengan cirri-ciri yang berbeda dengan
progresivisme. Dasar pijakan aliran ini lebih fleksibel dan terbuka untuk
perubahan, toleran, dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu
(Jalaluddin, 1997: 99). Nilai-nilai yang didalamnya adalah yangbersal dari
kebudayaan dan filsafat yang korelatif selama empat abad belakang. Kesalahan
dari kebudayaan sekarang menuerut esensialisme yaitu terletak pada
kecenderungan bahkan gejala-gejala pemyimpangannya dari jalan lurus yang telah
ditanmkan kebudayaan warisan itu.
Esensialisme
didukung oleh idelisme modern yang mempunyai pandanagn yang sistematis mengenai
alam semesta tempat manusia berad. Dan juga didukung oleh realisme yang
berpendapat bahwa kualitas nilai tergantung ada apa dan bagaimana keadaannya
apabila dihayati oleh subjek tertentu dan selanjutnya tergantung pola pada
subjek tersebut. Oleh karena itu aliran esensialisme adalah suatu filsafat
dalam aliran pendidikan konsevatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu
kritik pada trend-trend progesif di sekolah-sekolah (Sadullah, 1008:158).
b. Tokoh
dan Pengaruhnya dalam pendidikan
Adapun
para pemikir besar (tokoh) yang dianggap sebagai peletak dan asas-asas filsafat
paham aliran esensialisme, yaitu terutama yamg hidup pada zaman klasik : Plato,
Aristoteles, Demokritos. Plato dianggap sebagai .objektive idealism dan juga
sebagai peletak dasar teori modern dalam esensialisme. Sedangkan Aristoteles
dan Demokritos keduanya dianggap sebagai bapak objektiv realism. Kedua ide
tersebut (idealism dan realisme) itulah menjadi latar belakang thesis
esensialisme.
Tokoh-tokoh
nya antara lain :
1. Johan
Amos Cmenius (1592-1670) adalah pendidik Renaisans pertama yang berusaha untuk
mensistematisasikan proses pengajaran. Tokoh ini dengan pemilik
pandangan-pandangannya, dapat disebut sebagai realis yang dogmatis. Ia berkata
bahwa hendaklah segala sesuatu diajarkan melalui indera karena indera adalah
pintu gerbang jiwa. Jadi pintu gerbang dari pengetahuan itu sendiri. Disamping
itu, Comenius mempunyai pendirian bahwa karena dunia itu dinamis dan bertujuan,
tugas kewajban pendidikan adalah membentuk anak sesuai dengan kehendak Tuhan.
2. Jhon
Locke (1632-1704) adalah tokoh dari Inggris yang dikenal sebagai pemikiran
dunia ini, ia berusaha agar pendidikan menjadi dekat dengan situasi-situasi dan
kondisi. Jhon Locke mempunyai sekolah kerja untuk anak-anak miskin.
3. Johan
Pestalozzi (1746-1827) pecaya sedalam-dalamnya mengenai alam dari arti
peninjauan yang bersifat naturalistis. Alam dengan sifat-sifatnya tercermin
pada manusia, yang karenanya manusia memiliki kemampuan-kemampuan wajarnya.
Disamping itu Pestalozzi ‘percaya hal-hal yang transdental dengan mengatakan
bahwa manusia itu mempunyai hubungan transdental laangsung dengan tuhan.
4. Johan
Fridrich Herbart (1776-1841) salah seorang murid Immanuel Kant, adalah tokoh
yang selalu bersifat kritis. Ia bependirian bahwa tujuan pendidikan adalah
menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebajikan yang mutlak, yamg berarti antara
lain penyesuaian dengan hokum-hukum kesusilaan.
c. Strategi
esemsialisme
Dalam strategi
esensionalisme menerapkan ilmu pendidikan itu dibentuk semacam miniature dunia
yang dijadikan ukuran kenyataan kebenaran dan keagungan yang terapkan pada anak
didik. Ilmu yang didapatkan manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu hanya
dengan kesadaran jiwa tanpa adanya pengamatan dan pendidikan yang mempunyai dan
menjadikan anak didik yang berketerampilan yang dapat mengubah dunia. Dalam
bentuk kurikulum aliran ini memandang hendaklah kurikulum itu berpangkal pada
landasan idil dan organisasi yang kuat sehingga pendidikan itu terlaksana
secara sistematis dan beribawa.
d. Pendidikan
Esensialisme
memiliki pandangan bahwa pendidikan sebagai pemeliharaan kebudayaan. Paham ini
menginginkan agar kembali kepada kebudayaan lama, karena warisan sejarah telah
membuktikan adanya kebaikan – kebaikan bagi kehidupan manusia. Menurut paham
ini pula pendidikan harus didasarkan pada nilai – nilai kebudayaan yang telah
ada sejak awal peradaban umat manusia, kebudayaan yang mereka wariskan kepada
kita hingga sekarang, telah teruji oleh segala zaman, kondisi dan sejarah.
Kebudayaan yang demikian merupakan suatu hal yang mampu mengemban hari kini dan
masa depan umat manusia. Kebudayaan ini bersumber dalam ajaran para filosof,
ahli pengetahuan yang besar, yang ajaran dan nilai – nilai ilmu mereka bersifat
menetap.
e. Potret
guru esensionalisme
Guru dalam aliran
esensionalisme ini guru diarahkan untuk membina siswanya untuk belajar menuntut
ilmu yang disesuaikan oleh kurikulum yang telah dibuat dan disertai oleh
pengenalan spiritual, begitu juga dalam penyusunan kurikulum aliran ini
beranggapan kurikulum itu adalah realisme sebagai balok yang disusun dengan
teratur satu sama lain yang di ibaratkan seperti susunan alam. Guru juga
dituntut supaya bisa berkreativitas.
Daftar
pustaka :
- Barnadib, Imam. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta : Yayasan penerbit Fakultas Ilmu
Pendidikan, 1984.
- Sadulloh, Uyoh. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2012.
- Salahudin, Anas. Filsafat Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia, 2011
- Dr. Nunu Burhanuddin, Lc,. M.A (2018). Filsafat Ilmu (Edisi Pertama). Prenadamedia Goup: Jakarta
- Sonny Keraf Mikhael Dua (2010). Ilmu Pengetahuan. KANISIUS: Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar