Selasa, 28 Mei 2019

ALIRAN FILSAFAT DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN


MATERI 9-11
ALIRAN FILSAFAT DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN
1.      Progresivisme
a.       Latar belakang
Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita kehidupan agar manusia bisa survive menghadapi semua tantangan hidup. Dalam pandangan progmatisme, Suatu keterangan yang benar sesuai dengan kualitas kenyataannya (Rasjidi, 1965:18). aliran progmativisme memiliki kemajuan dalam bidang ilmu.
b.      Tokoh dan pengaruhnya dalam pendidikan
Ø  William James
William james lahir di New York, 11 januari 1842 dan meninggal di Choruroa agustus 1910. Beliau adalah seorang psikologi dan fisual amerika yang sangat terkenal Paham dan ajarannya juga kepribadiannya sangat perpengaruh di berbagian Negara Eropa dan Amerika.
c.       Strategi progresivisme
Filsafat progrativisme sama dengan pragmatisme. Penamaan filsafat progresivisme atau pragmatism ini merupakan perwujudan dari ide asal waktunya. Artinya filsafat progresivisme di pengaruhi ide - ide dasar filsafat pragmatism yang telah memberikan konsep dasar dengan asas yang utama, Agar manusia bisa survive menghadapi semua tantangan hidup dan pragmatis dalam memandang kehidupan.
d.      Pendidikan
Pendidikan sebagai alat memproses dan merekontruksi kebudayaan harus dapat menciptakan situasi yang edukatif, dan memberikan warna, corak dari anak didik yang berkualitas unggul, kompetitif, iniditif adaptif dan kreatif.
·         Asas belajar
Mempunyai konsep bahwa anak didik akal dan kecerdasan yang merupakan potensi kelebihan manusia dengan makhluk lain.
·         Pandangan kurikulum progresivisme
Kurikulum program pembelajaran dapat mempengaruhi anak untuk belajar edukatif baik di lingkungan sekolah dan di luar.
·         Pandangan progresivisme tentang budaya
Budaya sebagai hasil manusia dalam berbagai bentuk dan manifestasinya sepanjang sejarah akan dikenal sebagai milik manusia yang tidak kaku.
e.       Potret guru progresivisme
·         Sebagai fasilitator
·         Sebagai motivator
·         Sebagai konselor
Guru menurut pandangan filsafat progresivisme adalah sebagai nasehat, pembimbing pengarah dan bukan sebagai orang pemegang otoritas yang penuh.

2.      Aliran Perenailisme
a. Latar Belakang
            Perenialisme berasal dari kata perenial diartikan sebagai lasting for a very long time yang artinya abadi atau kekal dan baqa berarti tiada akhir. Dengan demikian esensi kepercayaan filsafat perenial ialah berpegang pada nilai-nilai atau norma-norma yang bersifat abadi. Sesuai dengan namanya perenialisme yang berarti segala sesuatu yang ada sepanjang sejarah ini akan dianggap suatu aliran yang ingin kembali kepada nilai-nilai masa lalu dengan maksud mengembalikan keyakinan akan nilai-nilai asasi manusia masa silam untuk menghadapi probelmatika kehidupan manusia masa sekarang dan sampai kapanpun.
            Menurut Huxley, prinsip-prinsip dasar filsafat perenialisme dapat ditemukan diantara legenda-legenda dan mitos kuno yang berkembang dalam masyarakat primitif diseluruh penjuru dunia. Jadi filsafat perenialisme pada dasarnya mengkaji sesutau yang ada dan akan selalu ada dan menawarkan pandangan alternatif agar manusia kembali kepada akar-akar spritualitas dirinya tanpa tenggelam dalam gemerlap kehidupan materi yang seringkali membuat kita silau dan menimbulkan berbagai tindakan yang tidak sesuai dengan kemanusiaan. Sehingga dengan kembali ke spritualitas dirinya, manusia akan kembali memiliki pandangan dunia holistic tentang dirinya, tentang alam, tentang dunianya.
b. Tokoh dan Pengaruhnya dalam Pendidikan
1.      Menurut Plato, ilmu pengetahuan dan nilai sebagai manifestasi dari hukum universal yang abadi dan ideal sehingga ketertiban sosial hanya akan mungkin dicapai bila ide itu menjadi tolak ukur yang memiliki asas normative dalam semua aspek kehidupan.
2.      Menurut psikolgi Plato manusia secara kodrati memiliki tiga potensi yaitu nafsu, kemauan dan akal. Ketiga potensi ini merupakan asas bagi bangunan kepribadian dan watak manusia. Ketiga potensi ini akan tumbuh dan berkembang melalui pendidikan, sehingga ketiganya berjalan secara seimbang dan harmonis. Pendidikan dalam hal ini hendaklah berorientasi pada potensi psikologis masyarakat, sehingga dapat mewujudkan pemebuhan kelas-kelas sosial dalam masyarakat tersebut.
3.      Menurut Aristoteles orientasi pendidikan ditujukan kepada kebahagiaan, melalui pengembangan kemampuan-kemampuan kerohanian seeperti emosi, kognisi serta jasmaniah manusia.
4.      Menurut Thomas Aquino bahwa tujuan pendidikan sebagai usaha untuk merealisasikan kapasitas dalam tiap individu manusia sehingga menjadi aktualis. Out-Put yag diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya menjadi lanadasan pengembangan disiplin mental. Tugas seorang pendidik ialah mempersiapkan peserta didik kearah kematangan intelektualnya. Dengan intelektualnya peserta didik dapat hidup bahagaia dei kebaikan hidupnya sendiri. Jadi, dengan pengembangan akal atau pikiranyya maka
akan dapat mempertinggi kemampuannya.

c. Strategi Perenialisme
strategi dalam aliran filsafat ini adalah memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses dan memberi sumbangan yang berpengaruh pada dunia pendidikan (Muhammad nor syam : 1986 : 296) dan penguasaan pengetahuan mengenai prinsip – prinsip pelajaran adalah modal utama bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasannya.

d. Pendidikan
            Filsafat perenialisme dalam pendidikan lahir pada abad ke-20. Perenialisme lahir dari sauatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progersivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh dengan kekacauan, ketidakpastian, terutama dalam kehidupan moral, intelektual, dan sosio-kultural.
Solusi yang ditawarkan kaum perenialis adalah dengan jalan mundur kebelakang dengan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat pada zaman kuno dan abad pertengahan.
Peradaban –kuno (yunani purba) dan abad pertengahan dianggap sebagai dasar budaya bangsa-bangsa di dunia dari masa kuno dan dari abad ke abad. Oleh karena itu, perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal yang dimaksud , educationas cultural regression.
Perenialisme tidak melihat jalan yang meyakinkan selain kembali kepada prinsip-prinsip yang telah sedemikian membentuk sikap kebiasaan, bahkan kepribadian manusia selain kebudayaan dahulu dan kebudayaan abad pertengahan. Perenialisme tidak memiliki kepercayaan diri bahwa zaman ini tidak akan berubah menjadi baik jika tidak kembali pada nilai-nilai buadaya lama yang dianggap ideal dan sudah mapan (Ahmad, 2014:100-101).

e. Potret Guru Perenialisme
            Guru mempunyai peranan yang dominan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar dikelas. Guru dipandang sebagai orang yang mempunyai otoritas dalam suatu bidang pengetahuan dan keahliannya tidak diragukan. Ny. Berstein mengajar bahasa inggris di SMU sejak pertengahan tahun 1960-an. Diantara para siswa da juga, ia memiliki suatu reputasi sebagai orang yang banyak menuntut.
            Selama pertengahan 1970-an , ia miliki waktu yang sulit untuk berhubungan dengan siswa yang secara agresif menuntut diajar pelajaran-pelajaran yang relevan. Sebagai seorang lulusan universitas top di Timur Amerika dimana ia menerima suatu pendidikan kalsik dan liberal, Ny. Berstein menolaak untuk memperlonggar penekanan pada karya-karya besar kesussastraan dikelasnya yang ia rasa perlu diketahui oleh para siswanya.
            Ny, berstein yakin bahwa kerja dan usaha keras itu penting jika seseorang ingin memperoleh pendidikan yang baik. Akibatnya, ia memberi siswa kesempatan yang sangat sedikit untuk berbuat / bertindak salah, dan ia tampak tahu dengan keluhan siswa yang dilakukan secara terbuka mengenai beban belajarnya. Ia sangat bersemangat ketika berbicara mengenai nilai karya klasik pada para siswa yang sedang bersiap-siap hidup sebagai orang dewasa di abad ke-21.

3.      Aliran Esensialisme
a.       Latar Belakang
Kata Esensialisme menurut kamus besar bahasa Indonesia terdapat dua kata, yaitu ‘esensi”yang berarti hakikat, inti, dasar” dan ditambahkan menjadi “esensial” yang berarti sangat berprinsip, sangat berpengaruh, samgat perlu” (Santoso, 2012 : 162). Dengan demikian aliran esensialisme adalah aliran yang mengembalikan segala sesuatu pada hakikat dasar yang sebenarnya. Esensialisme berusaha mencari dan mempertahankan hal-hal yang esensial, yaitu sesuatu yang bersifat inti atau hakikat fundamental, atau unsure mutlak yang menentukan keberadaan sesuatu (Wahyuni, 2010 :14). Oleh karena itu filsafat esensialisme adalah suatu aliran filsafat yang merupakan perpaduan ide filsafat idealism-objektif dan realism-objektif (Muhmidayeli, 2013:162).
Esensialisme muncul pada pada zaman Reinaisance dengan cirri-ciri yang berbeda dengan progresivisme. Dasar pijakan aliran ini lebih fleksibel dan terbuka untuk perubahan, toleran, dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu (Jalaluddin, 1997: 99). Nilai-nilai yang didalamnya adalah yangbersal dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif selama empat abad belakang. Kesalahan dari kebudayaan sekarang menuerut esensialisme yaitu terletak pada kecenderungan bahkan gejala-gejala pemyimpangannya dari jalan lurus yang telah ditanmkan kebudayaan warisan itu.
Esensialisme didukung oleh idelisme modern yang mempunyai pandanagn yang sistematis mengenai alam semesta tempat manusia berad. Dan juga didukung oleh realisme yang berpendapat bahwa kualitas nilai tergantung ada apa dan bagaimana keadaannya apabila dihayati oleh subjek tertentu dan selanjutnya tergantung pola pada subjek tersebut. Oleh karena itu aliran esensialisme adalah suatu filsafat dalam aliran pendidikan konsevatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progesif di sekolah-sekolah (Sadullah, 1008:158).

b.      Tokoh dan Pengaruhnya dalam pendidikan
Adapun para pemikir besar (tokoh) yang dianggap sebagai peletak dan asas-asas filsafat paham aliran esensialisme, yaitu terutama yamg hidup pada zaman klasik : Plato, Aristoteles, Demokritos. Plato dianggap sebagai .objektive idealism dan juga sebagai peletak dasar teori modern dalam esensialisme. Sedangkan Aristoteles dan Demokritos keduanya dianggap sebagai bapak objektiv realism. Kedua ide tersebut (idealism dan realisme) itulah menjadi latar belakang thesis esensialisme.
Tokoh-tokoh nya antara lain :
1.      Johan Amos Cmenius (1592-1670) adalah pendidik Renaisans pertama yang berusaha untuk mensistematisasikan proses pengajaran. Tokoh ini dengan pemilik pandangan-pandangannya, dapat disebut sebagai realis yang dogmatis. Ia berkata bahwa hendaklah segala sesuatu diajarkan melalui indera karena indera adalah pintu gerbang jiwa. Jadi pintu gerbang dari pengetahuan itu sendiri. Disamping itu, Comenius mempunyai pendirian bahwa karena dunia itu dinamis dan bertujuan, tugas kewajban pendidikan adalah membentuk anak sesuai dengan kehendak Tuhan.
2.      Jhon Locke (1632-1704) adalah tokoh dari Inggris yang dikenal sebagai pemikiran dunia ini, ia berusaha agar pendidikan menjadi dekat dengan situasi-situasi dan kondisi. Jhon Locke mempunyai sekolah kerja untuk anak-anak miskin.
3.      Johan Pestalozzi (1746-1827) pecaya sedalam-dalamnya mengenai alam dari arti peninjauan yang bersifat naturalistis. Alam dengan sifat-sifatnya tercermin pada manusia, yang karenanya manusia memiliki kemampuan-kemampuan wajarnya. Disamping itu Pestalozzi ‘percaya hal-hal yang transdental dengan mengatakan bahwa manusia itu mempunyai hubungan transdental laangsung dengan tuhan.
4.      Johan Fridrich Herbart (1776-1841) salah seorang murid Immanuel Kant, adalah tokoh yang selalu bersifat kritis. Ia bependirian bahwa tujuan pendidikan adalah menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebajikan yang mutlak, yamg berarti antara lain penyesuaian dengan hokum-hukum kesusilaan.

c.       Strategi esemsialisme

Dalam strategi esensionalisme menerapkan ilmu pendidikan itu dibentuk semacam miniature dunia yang dijadikan ukuran kenyataan kebenaran dan keagungan yang terapkan pada anak didik. Ilmu yang didapatkan manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu hanya dengan kesadaran jiwa tanpa adanya pengamatan dan pendidikan yang mempunyai dan menjadikan anak didik yang berketerampilan yang dapat mengubah dunia. Dalam bentuk kurikulum aliran ini memandang hendaklah kurikulum itu berpangkal pada landasan idil dan organisasi yang kuat sehingga pendidikan itu terlaksana secara sistematis dan beribawa.


d.      Pendidikan
Esensialisme memiliki pandangan bahwa pendidikan sebagai pemeliharaan kebudayaan. Paham ini menginginkan agar kembali kepada kebudayaan lama, karena warisan sejarah telah membuktikan adanya kebaikan – kebaikan bagi kehidupan manusia. Menurut paham ini pula pendidikan harus didasarkan pada nilai – nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia, kebudayaan yang mereka wariskan kepada kita hingga sekarang, telah teruji oleh segala zaman, kondisi dan sejarah. Kebudayaan yang demikian merupakan suatu hal yang mampu mengemban hari kini dan masa depan umat manusia. Kebudayaan ini bersumber dalam ajaran para filosof, ahli pengetahuan yang besar, yang ajaran dan nilai – nilai ilmu mereka bersifat menetap.

e.       Potret guru esensionalisme
Guru dalam aliran esensionalisme ini guru diarahkan untuk membina siswanya untuk belajar menuntut ilmu yang disesuaikan oleh kurikulum yang telah dibuat dan disertai oleh pengenalan spiritual, begitu juga dalam penyusunan kurikulum aliran ini beranggapan kurikulum itu adalah realisme sebagai balok yang disusun dengan teratur satu sama lain yang di ibaratkan seperti susunan alam. Guru juga dituntut supaya bisa berkreativitas.


Daftar pustaka :
  •  Barnadib, Imam. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta : Yayasan penerbit Fakultas Ilmu Pendidikan, 1984.
  •  Sadulloh, Uyoh. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2012.
  •   Salahudin, Anas. Filsafat Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia, 2011
  • Dr. Nunu Burhanuddin, Lc,. M.A (2018). Filsafat Ilmu (Edisi Pertama). Prenadamedia Goup: Jakarta
  •  Sonny Keraf Mikhael Dua (2010). Ilmu Pengetahuan. KANISIUS: Yogyakarta



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A. Konsep penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah metode penellitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang ala...