MATERI 16.
DIALOG ANTAR ALIRAN ATAS PROBLEMATIKA DAN DILEMATIKA KEHIDUPAN
MULTIDIMENSIONAL UNTUK PENGEMBANGAN TEORI DAN PRAKTEK PENDIDIKAN DI INDONESIA
DAN DUNIA.
Dialog antar aliran atas problema dan dilematika kehidupan
multidimensional
Berbagai pemikiran yang di tampilkan
oleh masing-masing aliran filsafat pendidikan bergulir bangunan epistemologi
masing-masing. Progresivisme umpamanya memeiliki keyakinan ontologis bahwa
manusia adalah makhluk yang memeiliki kemampuan yang memadai secara potensial
untuk menghadapi dan mengatasi berbagai problem kehidupannya menuju suatu
perkembangan yang lebih baik dan lebih sempurna yang mengarah pada yang
progres.
Pendidikan dalam hal ini di pandang sebagai suatu motor bagi penumbuh kembangan kemampuan dasar subjek-subjek didik ini agar fungsional dalam menghadapi dan memecahkan berbagai kesulitan hidup. Dengan demikian, mereka akan memiliki kemandirian dalam pengambilan sikap berdasarkan cara-cara logis dan dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiah. Berbagai ragam ilmu pengetahuan dan teknologi adalah bukti nyata bagi fungsionalitas kemampuan manusia dalam memecahkan problem-problem kehidupannya,
dan sekaligus akan menjadi modal bagi pengembangan kearah ,pengetahuan dan teknologi baru yang adalah juga akan menjadikan langkah kemajuan-kemajuan selanjutnya tanpa henti.
Pendidikan dalam hal ini di pandang sebagai suatu motor bagi penumbuh kembangan kemampuan dasar subjek-subjek didik ini agar fungsional dalam menghadapi dan memecahkan berbagai kesulitan hidup. Dengan demikian, mereka akan memiliki kemandirian dalam pengambilan sikap berdasarkan cara-cara logis dan dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiah. Berbagai ragam ilmu pengetahuan dan teknologi adalah bukti nyata bagi fungsionalitas kemampuan manusia dalam memecahkan problem-problem kehidupannya,
dan sekaligus akan menjadi modal bagi pengembangan kearah ,pengetahuan dan teknologi baru yang adalah juga akan menjadikan langkah kemajuan-kemajuan selanjutnya tanpa henti.
1.ALIRAN
PROGESIVISME
Aliran progesivisme telah
memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan saat ini. Aliran ini telah
meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak didik
diberikan kebaikan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan
bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan
yang dibuat oleh orang lain. Oleh karena itu, filsafat progesivisme tidak
menyetujui pendidikan yang otoriter
PENDIDIKAN DALAM KONTEKS
PROGRESIVISME
Memberikan pengalaman empiris kepada subjek-subjek didik agar ia
memiliki kemampuan ilmiah dalam memecahkan berbagai problem kehidupan agar ia
siap menghadapi berbagai perubahan dalam suatu kehidupan dimasyarakatnya.
Progresivisme memandang ilmu pengetahuan sebatas pengembangan dan
pemahaman pengetahuan dengan mengatakan bahwa suatu pengetahuan yang berangkat
dari fakta-fakta yang terverifikasi dan terukur secara ketat.
Pahaman
yang di maknai dalam konteks studi ilmiah terhadap masyarakat tentu masyarakat
di sini mesti pula di pandang sebagai suatu realitas yang terpisah dari subjek
penelitian dan berjalan seper layaknya alam.
Suatu
keilmuan lahir selalu berkenaan dengan problem yang dihadapi oleh manusia dalam
kehidupannya. Pengembangan keilmuan sangat tergantung pada cara pandang
seseorang atau sekelompok orang dalam memandang realitas
.
2. ALIRAN ESENSIALISME
2. ALIRAN ESENSIALISME
Aliran esensialisme merupakan aliran pendidikan yang didasarkan
pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia.
Karena memendang bahwa entitas manusia sangat ditentukan oleh ragam struktur
kebudayaan yang membentuknya , maka diperlukan pendidikan yang bersendikan atas
azas-azas yang tetap yang akan mendatangkan kestabilan. Azas-azas yang tetap
ini hendaknya azas yang benar-benar telah terujui waktu.
Contoh dari aliran esensialisme
Contoh dari aliran esensialisme
Bila orang berhadapan dengan benda-benda, bukan berarti semua itu
sudah mempunyai bentuk, ruang, dan ikatan waktu. Bentuk, ruang , dan waktu
sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. Jadi, apriori
yang terarah bukanlah budi pada benda, tetapi benda-benda itu yang terarah pada
budi. Budi membentuk dan mengatur dalam ruang dan waktu. Dengan mengambil
landasan pikir tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai substansi
spiritual yang membina dan menciptakan diri sendiri.
3.
ALIRAN REKONSTRUKSIONISME
Aliran
rekonstruksionisme percaya, bahwa pengembangan watak manusia mesti selalu
berinteraksi dengan kondisi-kondisi yang mengelilinginya. Suatu kebudayaan
lahir berdasarkan pada pola adaptasi yang dilakukan oleh individu atau kelompok
dengan lingkungan masyarakatnya.
Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia ,Drsitual yang sehat melalui pendidikan yang tepat akan membina kembali manusia dengan nilai dan norma yang benar pula demi generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.
Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia ,Drsitual yang sehat melalui pendidikan yang tepat akan membina kembali manusia dengan nilai dan norma yang benar pula demi generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.
Mengingat
manusia adalah bagian terpenting dalam sebuah masyarakat, maka apa pun yang ia
lakukan selalu berkenaan dengan pembentukan kebudayaan. Pembentukan kebudayaan
ini sangat tergantung pada aspek kebebasan yang memang merupakan hak esensial
manusia. Demokrasi mestilah menjadi asas penting dalam kehidupan social dalam
skala apa pun.
Aliran
Rekonstruksionisme memiliki presepsi sebagai berikut:
bahwa
masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur dan diperintah oleh
rakyat secara demokratis, bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu.
Cita-cita demokrasi yang sesungguhnya tidak hanya teori, tetapi mesti diwujudkan menjadi kenyataan, sehingga mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan
Cita-cita demokrasi yang sesungguhnya tidak hanya teori, tetapi mesti diwujudkan menjadi kenyataan, sehingga mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan
aspek-aspek
pembahasan filsafat yang diperlukan dalam pemikiran dan praktek pendidikan
meliputi karakteristik filsafat,cabang-cabang filsafat dan aliran-aliran
filsafat.dengan memahami ini diharapkan para pemikir dan pelaksana pendidikan
diharapkan dapat memanfaaatkan filsafat dengan sebaik-baiknya.
Daftar pustaka :
- Filsafat pendidikan teori dan praktik,drs.h.soegiono,mm.dr.tamsil muis.rosda.bandung. Pengantar pendidikan,asas dan filsafat pendidikan .dr.drs.ruslam ahmadi,m.pd.ar-ruzz media.yogyakarta
- Ramayulis.2015.Dasar-Dasar Kependidikan
Suatu PengantarIlmu Pendidikan, Jakarta:Kalam Mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar