MATERI I
HAKI KAT KURIKULUM DAN DIMENSI KURIKULUM
HAKIKAT
KURIKULUM
Istilah
kurikulum berasal dari bahasa latin, yakni “Curriculae” artinya jarak yang
harus ditempuh seseorang pelari. Jadi, pengertian kurikulum adalah jangka waktu
pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh
ijazah. Dalam hal ini, ijazah pada hakikatnya merupakan suatu bukti, bahwa
siswa telah menempuh kurikulum yang berupa rencana pelajaran, sebagaimana
halnya seorang pelari telah menempuh suatu jarak antara satu tempat ke tempat
lainnya dan akhirnya mencapai finish. Dengan kata lain, suatu kurikulum
dianggap sebagai jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari
suatu perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu.
Menurut hamalik
(2008: 16-17) kurikulum memuat materi pelajaran. Kurikulum ialah sejumlah mata
ajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah
pengetahuan. Mata ajaran (subject matter) dipandang sebagai pengalaman orang
tua atau orang-orang pandai masa lampau, yang telah disusun secara sistematis
dan logis. Contohnya, bakat pengalaman dan penemuan-penemuan masa lampau, maka
diadakan pemilihan dan selanjutnya disusun secara sistematis, artinya menurut
urutan tertentu, dan logis, artinya dapat diterima oleh akal dan pikiran. Mata
ajaran tersebut mengisi materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa,
sehingga memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan yang berguna baginya. Semakin
banyak pula mata ajaran yang harus disusun dalam kurikulum dan harus dipelajari
oleh siswa disekolah.
A.
KARAKTERISTIK PAUD
Kurikulum 2013
Pendidikan Anak Usia Dini dirancang dengan karakteristik sebagai berikut:
1.
Mengoptimalkan perkembangan
anak yang meliputi:
-
Aspek nilai
agama dan moral
-
Fisik-motorik
-
Kognitif
-
Bahasa
-
Sosial emosional
-
Seni yang
tercermin dalam keseimbangan kompetensi sikap, pengetahun, dan keterampilan
2.
Menggunakan
pembelajaran tematik dengan pendekatan saintifik dalam pemberian rangsangan
pendidikan
3.
Menggunakan
penilaian otentik dalam memantau perkembangan anak
4.
Memberdayakan
peran orang tua dalam proses pembelajaran.
B.
KURIKULUM PAUD
Menurut Suryana
(2014:1) pengembangan kurikulum di Indonesia mendorong perbaikan proses
pembelajaran, salah satu proses utama pembelajaran dalam kurikulum pendidikan
anak usia 2013 adalah pendekatan ilmiah berbasis pembelajaran. Belajar ilmiah
adalah pencapaian tujuan melalui kegiatan anak-anak belajar. Anak-anak
diharapkan untuk mengembangkan kemampuan untuk mengamati bertanya, mencoba,
alas an, dan berkomunikasi proses pembelajaran yang dialami oleh anak usaha
penemuan pembelajaran.
PAUD merupakan pendidikan
yang paling fundamental karena perkembangan anak dimasa selanjutnya sangat di
tentukan oleh berbagai stimulasi bermakna yang diberikan sejak usia dini.
Pendidikan anak usia dini harus dipersiapkan secara terencana dan bersifat
holistic agar dimasa emas perkembangan anak mendapatkan distimulasi yang utuh,
sehingga mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki anak. Salah satu upaya
yang dapat dilakukan dalam rangka pengembangan potensi tersebut adalah dengan
program pendidikan yang terstruktur. Salah satu komponen untuk pendidikan yang
terstruktur adalah Kurikulum.
Kurikulum 2013 PAUD
bertujuan untuk mendorong perkembangan peserta didik secara optimal sehingga
member dasar untuk menjadi manusia Indonesia yang memiliki kemampuan hidup
sebagai pribadi dan warga Negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif,
dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
bernegara dan peradaban dunia.
C.
DIMENSI
KURIKULUM
1.
Kurikulum sebagai Suatu Ide
Idea
tau konsep kurikulum bersifat dinamis, dalam arti akan selalu berubah mengikuti
perkembangan zaman, minat dan kebutuhan peserta didik, tuntutan masyarakat,
ilmu pengetahuan dan teknologi.Ide atau gagasan tentang kurikulum hanya ada
dalam pemikiran seseorang yang terlibat dalam proses pendidikan, baik secara
langsung maupun tidak langsung, seperti Kepala Dinas Pendidikan, Pengawas,
Kepala Sekolah, guru, peserta didik, orang tua dan sebagainya.
Ketika
orang berpikir tentang tujuan sekolah, materi yang harus disampaikan kepada
peserta didik, kegiatan yang harus dilakukan oleh guru, orang tua dari peserta
didik, objek evaluasi, maka itulah dimensi kurikulum sebagai suatu idea tau
konsep. Dimensi kurikulum sebagai suatu ide, biasanya dijadikan langkah awal
dalam pengembangan kurikulum, yaitu ketika melakukan studi pendapat.
2.
Kurikulum sebagai Suatu Rencana Tertulis
Dimensi
kurikulum sebagai rencana biasanya tertuang dalam suatu dokumen tertulis.
Dimensi ini menjadi banyak perhatian orang, karena wujudnya dapat dilihat,
mudah dibaca dan dianalisis. Dimensi kurikulum ini pada dasrnya merupakan
realisasi dari dimensi kurikulum sebagai ide. Aspek-aspek penting yang perlu
dibahas, antara lain: pengembangan tujuan dan kompetensi, struktur kurikulum,
kegiatan dan pengalaman belajar, organisasi kurikulum, manjemen kurikulum,
hasil belajar, dan system evaluasi.
Kurikulum
sebagai ide harus mengikuti pola dan ketentuan-ketentuan kurikulum sebagai
rencana. Dalam prakteknya, seringkali kurikulum sebagai rencana banyak
mengalami kesulitan, karena ide-ide yang ingin disampaikan terlalu umum dan
banyak yang tidak dimengerti oleh para pelaksana kurikulum.
3.
Kurikulum sebagai Suatu Proses
Kurikulum
dalam dimensi ini merupakan kurikulum yang sesungguhnya terjadi di lapangan
(real curriculum). Peserta didik mungkin saja memikirkan kurikulum sebagai ide,
tetapi apa yang dialaminya merupakan kurikulum sebagai kenyataan. Antara ide
dan pengalaman mungkin sejalan tetapi mungkin juga tidak. Banyak ahli kurikulum
yang masih mempertentangkan dimensi ini, dalam arti apakah sesuatu kegiatan
termasuk kurikulum atau bukan.
Segala
sesuatu yang dilakukan peserta didik di kelas juga merupakan implementasi
kurikulum. Artinya, antara kurikulum sebagai ide dengan kurikulum sebagai
kegiatan (proses) merupakan suatu rangkaian yang berkesinambungan, suatu
kesatuan yang utuh. Tidak ada alas an untuk mengatakan dimensi kurikulum
sebagai suatu kegiatan bukan merupakan kurikulum, karena semua kegiatan di
sekolah maupun di luar sekolah atas tanggung jawab sekolah merupakan bagian
dari kurikulum.
4.
Kurikulum sebagai Hasil Belajar
Hasil
belajar adalah kurikulum tetapi kurikulum bukan hasil belajar. Pernyataan ini
perlu dipahami sejak awal, karena banyak orang tau bahwa hasil belajar
merupakan bagian dari kurikulum, tetapi kurikulum bukan hanya hasil belajar.
Banyak juga orang tidak tau bahwa pengertian kurikulum dapat dilihat dari
dimensi hasil belajar, karena memang tidak dirumuskan secara formal. Begitu
juga ketika dilakukan evaluasi secara formal tentang kurikulum, pada umumnya
orang selalu mengaitkannya dengan hasil belajar. Sekalipun, evaluasi kurikulum
sebenarnya jauh lebih luas daripada penilaian hasil belajar. Artinya hasil
belajar bukan satu-satunya objek evaluasi kurikulum.
Namun
demikian, hasil belajar dapat dijadikan sebagai salah satu dimensi pengertian
kurikulum, evaluasi kurikulum, sedangkan fungsinya adalah untuk memperbaiki,
menyempurnakan atau mengganti kurikulum dalam dimensi sebagi rencana.
Hasil
belajar sebagai bagian adri kurikulum terdiri atas berbagai domain, seperti
pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai. Secara teoritis, domain hasil
belajar tersebut dapat dipisahkan, tetapi secara praktis domain tersebut harus
bersatu. Hasil belajar juga banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor,
diantaranya faktor guru, peserta didik, sumber belajar, dan lingkungan.
- Sarinah, S.Ag., M.Pd.I. (2015). Pengantar Kurikulum. Yogyakarta: Deepublish
- Susianty Selaras Ndari, M. Pd, Dr. Hj. Chandrawaty, M. Pd. Telaah Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini. Edu Publisher
- (https://books.google.co.id/booksid=iNWBDwAAQBAJ&dq=HAKIKAT+KURIKULUM&hl=id&source=gbs_navlinks_s
- Dr. Dadan Suryana (2016). Pendidikan Anak Usia Dini: Stimulasi & Aspek Perkembangan Anak. Jakarta: Kencana
- ·
http://paud.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2016/04/Permendikbud-146-Tahun-2014.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar